Ekonom Sebut Manufaktur-Pertanian Dorong Ekonomi RI Resilien

ekonom

Ekonom: Manufaktur dan Pertanian Kunci Pertumbuhan Ekonomi RI Resilien
Bank Mandiri Dorong Akselerasi Sektor Riil untuk Capai Pertumbuhan Berkelanjutan

Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menilai sektor manufaktur dan pertanian menjadi kunci utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih resilien dan berkelanjutan. Kedua sektor tersebut merupakan penyumbang terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.

Baca Juga “BI: Pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan berlanjut di triwulan I 2026

Menurut Andry, Indonesia perlu mempercepat pertumbuhan sektor-sektor riil yang memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian. Ia menekankan bahwa strategi pembangunan ekonomi harus berfokus pada penguatan basis produksi domestik agar mampu menghadapi tekanan global.

“Kalau ditanya apa strateginya agar Indonesia tumbuh secara resilien dan berkelanjutan, ya memang harus menumbuhkan sektor-sektor yang memiliki kontribusi besar buat perekonomian Indonesia,” ujarnya di Jakarta, Rabu malam.

Pertumbuhan Manufaktur dan Pertanian Masih di Bawah Potensi

Andry mencatat bahwa dalam tiga tahun terakhir, pertumbuhan sektor manufaktur serta pertanian, kehutanan, dan perikanan masih relatif rendah. Rata-rata pertumbuhan sektor manufaktur tercatat sekitar 4,8 persen, sementara sektor pertanian hanya sekitar 2,4 persen.

Ia menilai angka tersebut belum mencerminkan potensi penuh kedua sektor yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Terutama sektor pertanian yang masih membutuhkan akselerasi lebih kuat untuk mendukung ketahanan pangan nasional.

Menurutnya, jika sektor pertanian mampu tumbuh hingga 4 persen, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan berpotensi menembus di atas 5,5 persen. Kondisi tersebut akan membuat struktur ekonomi lebih stabil dan tahan terhadap guncangan eksternal.

Peran Manufaktur dan Pertanian dalam Penyerapan Tenaga Kerja

Selain kontribusinya terhadap PDB, Andry menekankan pentingnya kedua sektor ini dalam menciptakan lapangan kerja. Industri manufaktur dan pertanian memiliki peran besar dalam menyerap tenaga kerja di berbagai daerah.

Saat ini, sebagian besar tenaga kerja di sektor pertanian masih berada dalam kategori informal. Hal ini menunjukkan adanya tantangan dalam peningkatan kualitas pekerjaan di sektor tersebut.

Dengan pengelolaan yang tepat, sektor pertanian berpotensi menciptakan lebih banyak lapangan kerja formal. Hal ini sekaligus dapat meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani di Indonesia.

Potensi Devisa dari Komoditas Ekspor

Andry juga menyoroti potensi besar sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dalam menghasilkan devisa negara. Komoditas seperti kopi, kakao, kelapa, cengkeh, dan pala menjadi produk unggulan Indonesia di pasar global.

Produk-produk tersebut memiliki permintaan tinggi di berbagai negara, sehingga mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap neraca perdagangan. Penguatan hilirisasi juga dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah ekspor.

Dengan strategi yang tepat, sektor ini tidak hanya memperkuat ekonomi domestik tetapi juga meningkatkan daya saing Indonesia di pasar internasional.

Ketimpangan Wilayah dan Tantangan Pemerataan Ekonomi

Dalam analisisnya, Andry juga menyoroti ketimpangan kontribusi ekonomi antarwilayah. Dalam kurun 40 tahun terakhir, kontribusi PDRB Sumatra dan Kalimantan terhadap ekonomi nasional cenderung menurun.

Padahal, kedua wilayah tersebut merupakan pusat produksi komoditas utama nasional. Sebaliknya, kontribusi Pulau Jawa justru terus meningkat secara signifikan.

Kondisi ini menunjukkan perlunya pemerataan pembangunan ekonomi antarwilayah. Penguatan infrastruktur, investasi, dan industri di luar Jawa menjadi faktor penting untuk menciptakan pertumbuhan yang lebih seimbang.

Proyeksi Ekonomi 2026 dan Tantangan Pertumbuhan

Terkait proyeksi ekonomi 2026, Andry menilai tantangan utama terletak pada menjaga momentum pertumbuhan di kuartal II dan III. Kuartal III biasanya menjadi periode dengan minim sentimen musiman yang dapat mendorong pertumbuhan.

Sementara itu, kuartal I 2026 diperkirakan mencatat pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan kuartal IV 2025. Hal ini dipengaruhi oleh faktor musiman seperti Ramadan dan Idulfitri, serta efek basis rendah dari periode sebelumnya.

Selain itu, akselerasi belanja pemerintah juga diperkirakan turut mendukung pertumbuhan ekonomi awal tahun.

“Jadi, tiga poin ini yang kemungkinan besar membuat pertumbuhan kuartal I sedikit lebih tinggi dibandingkan kuartal IV 2025,” jelas Andry.

Penutup: Penguatan Sektor Riil sebagai Fondasi Ekonomi

Secara keseluruhan, penguatan sektor manufaktur dan pertanian menjadi fondasi penting bagi ketahanan ekonomi Indonesia. Kedua sektor ini tidak hanya berkontribusi besar terhadap PDB, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan devisa negara.

Dengan kebijakan yang tepat dan pemerataan pembangunan, Indonesia memiliki peluang untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih stabil, inklusif, dan berkelanjutan dalam jangka panjang.

Baca Juga “Pengusaha RI Lagi Ngerem Rekrut Karyawan Baru, Alasannya Terbongkar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *