CORE Indonesia Nilai Bea Masuk 0 Persen Perkuat Daya Saing Manufaktur
Kebijakan Tarif Impor Dorong Efisiensi Biaya Industri
Pemerintah menerapkan kebijakan tarif Bea Masuk 0 persen untuk impor barang tertentu sebagai upaya mendukung perkembangan industri nasional. Kebijakan tersebut dinilai dapat membantu sektor manufaktur mengurangi beban biaya produksi dan meningkatkan daya saing produk dalam negeri.
Baca Juga “Sektor Manufaktur Dorong Produktivitas dan Pertumbuhan yang Berkelanjutan“
Executive Director CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menilai insentif tersebut berpotensi memberikan dampak positif bagi industri yang masih bergantung pada bahan baku maupun komponen impor. Menurutnya, sektor Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) serta industri petrokimia menjadi dua bidang yang dapat merasakan manfaat dari kebijakan tersebut.
“Pemberian tarif bea masuk 0 persen untuk industri maintenance, repair, dan overhaul serta industri petrokimia semestinya bagus untuk mendorong industri terkait di dalam negeri,” ujar Faisal.
Menurut Faisal, penurunan tarif impor tidak hanya memberikan keuntungan bagi produsen utama, tetapi juga dapat memperkuat ekosistem industri pendukung. Sektor jasa seperti MRO dinilai memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan operasional berbagai industri.
Industri MRO Berpotensi Ciptakan Efek Berganda
Faisal menjelaskan bahwa industri MRO merupakan salah satu sektor jasa yang mendukung aktivitas manufaktur dan berbagai bidang strategis. Industri ini mencakup kegiatan perawatan, perbaikan, serta pemeliharaan berbagai peralatan, termasuk komponen industri dan sektor penerbangan.
Dengan adanya pembebasan bea masuk, biaya pengadaan komponen impor dapat ditekan. Kondisi tersebut dapat memberikan ruang bagi perusahaan untuk meningkatkan efisiensi sekaligus memperluas kegiatan bisnis.
“Yang akan berkembang bukan hanya industrinya, tetapi juga jasa industrinya. Maintenance, repair, dan overhaul merupakan jasa pendukung industri yang akan menciptakan multiplier effect lebih luas,” jelas Faisal.
Efek berganda tersebut dapat muncul melalui peningkatan aktivitas produksi, kebutuhan tenaga kerja, serta tumbuhnya sektor usaha lain yang berkaitan dengan rantai pasok industri.
Bea Masuk 0 Persen Dinilai Tingkatkan Daya Saing Produk Nasional
CORE Indonesia menilai pengurangan biaya impor bahan baku dan komponen dapat membantu industri manufaktur menghasilkan produk dengan harga lebih kompetitif. Efisiensi biaya menjadi salah satu faktor penting agar produk nasional mampu bersaing di pasar domestik maupun global.
Faisal menyebut, biaya produksi yang lebih rendah dapat mendorong perusahaan melakukan ekspansi dan meningkatkan investasi. Selain itu, kebijakan tersebut juga berpotensi memperkuat posisi industri Indonesia dalam rantai pasok internasional.
“Dengan begitu biaya produksi bisa ditekan dan otomatis meningkatkan daya saing industri dalam negeri.Produknya menjadi lebih kompetitif sehingga diharapkan juga mampu mendorong investasi dan ekspansi industri,” katanya.
Meski memberikan peluang positif, Faisal mengingatkan bahwa daya saing industri tidak hanya dipengaruhi oleh tarif impor. Faktor lain seperti harga energi, biaya logistik, dan ketersediaan bahan baku tetap menjadi tantangan bagi pelaku usaha.
Tantangan Biaya Produksi Masih Membayangi Manufaktur
Menurut Faisal, penurunan bea masuk memang dapat membantu industri, tetapi tekanan biaya produksi masih menjadi persoalan yang perlu diperhatikan. Kenaikan harga energi dan logistik dapat mengurangi dampak positif dari insentif tersebut.
“Walaupun bea masuk diturunkan, ketika komponen biaya produksi lainnya meningkat, tekanannya tetap relatif tinggi. Namun kondisinya tentu lebih baik dibandingkan apabila tarif bea masuk juga masih tinggi,” ujar Faisal.
Karena itu, pemerintah dan pelaku industri perlu menjaga keseimbangan kebijakan agar sektor manufaktur dapat berkembang secara berkelanjutan. Dukungan terhadap efisiensi produksi perlu berjalan bersama dengan peningkatan produktivitas dan penguatan industri dalam negeri.
Prospek Industri Manufaktur pada Semester Kedua 2026
CORE Indonesia memperkirakan kebijakan Bea Masuk 0 persen dapat membantu menjaga pertumbuhan sektor manufaktur pada paruh kedua menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat sektor manufaktur. Jika diikuti dengan kebijakan pendukung lainnya, langkah tersebut dapat membantu industri nasional meningkatkan efisiensi, 2026. Faisal berharap industri mampu mempertahankan pertumbuhan di sekitar 5 persen.
“Semestinya bisa mendorong kinerja sektor manufaktur pada semester kedua. Harapannya paling tidak mampu bertahan tumbuh di kisaran 5 persen,” pungkas Faisal.
Namun, ia menilai target pertumbuhan ekonomi nasional di atas 5 persen masih menghadapi berbagai tantangan. Kondisi ekonomi global, daya beli masyarakat, serta dinamika biaya produksi menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan.
Secara keseluruhan, kebijakan tarif Bea Masuk 0 persen dinilai menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat sektor manufaktur. Jika diikuti dengan kebijakan pendukung lainnya, langkah tersebut dapat membantu industri nasional meningkatkan efisiensi, menarik investasi, dan memperluas daya saing di pasar global.
Baca Juga “PMI Manufaktur Pendahuluan Zona Euro secara Mengejutkan Naik Lebih Cepat dari Prakiraan ke 52,0“