PMI Manufaktur ASEAN Tetap Ekspansif pada Agustus 2026
Aktivitas manufaktur di kawasan ASEAN mempertahankan pertumbuhan solid pada Agustus 2026. PMI manufaktur ASEAN tercatat 52,3, meski turun dari 52,8 pada Juli.
Angka di atas 50 menunjukkan sektor manufaktur masih berada dalam fase ekspansi. Perlambatan indeks utama terutama dipengaruhi pertumbuhan produksi yang sedikit lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.
Di tengah perlambatan tersebut, kondisi permintaan tetap kuat. Pertumbuhan pesanan baru mendekati rekor survei, menunjukkan aktivitas manufaktur masih memperoleh dukungan dari permintaan domestik dan pasar yang relatif tangguh.
Produksi Melambat, tetapi Tetap Tumbuh Solid
S&P Global mencatat pertumbuhan produksi manufaktur ASEAN sedikit melambat pada Agustus. Meski demikian, laju produksi masih tergolong kuat dan menunjukkan aktivitas industri tetap berkembang.
Penurunan PMI utama tidak mencerminkan pelemahan menyeluruh pada sektor manufaktur. Sejumlah indikator justru menunjukkan perusahaan masih menghadapi permintaan yang kuat dan tekanan terhadap kapasitas produksi.
Maryam Baluch, Ekonom S&P Global Market Intelligence, mengatakan kondisi manufaktur ASEAN masih menunjukkan perbaikan yang solid.
“Perbaikan didukung oleh kondisi permintaan yang tetap tangguh, terutama di pasar domestik,” ujar Baluch dalam rilis S&P Global, Kamis (3/9/2026).
Menurutnya, penguatan keyakinan bisnis dan meredanya tekanan harga turut memberikan ruang bagi sektor manufaktur untuk mempertahankan momentum pertumbuhan.
Pesanan Baru Mendekati Rekor Survei
Pesanan baru menjadi salah satu pendorong utama kinerja manufaktur ASEAN pada Agustus. Pertumbuhan pesanan tercatat cepat dan mendekati rekor yang pernah dicapai dalam survei.
Laju pertumbuhan pesanan baru hanya sedikit berada di bawah rekor yang tercatat pada Februari. Kondisi ini menunjukkan permintaan terhadap produk manufaktur masih relatif kuat meski pertumbuhan produksi sedikit melambat.
Kuatnya pesanan baru juga memberikan sinyal positif terhadap aktivitas produksi pada periode berikutnya. Perusahaan memiliki basis permintaan yang dapat mendukung peningkatan output apabila kapasitas produksi mampu mengikuti pertumbuhan pesanan.
Aktivitas Pembelian Tetap Meningkat
Perusahaan manufaktur ASEAN masih meningkatkan aktivitas pembelian pada Agustus. Pertumbuhan aktivitas tersebut tetap solid meski kecepatannya sedikit menurun dibandingkan periode sebelumnya.
Aktivitas pembelian menjadi salah satu indikator penting untuk melihat kebutuhan perusahaan terhadap bahan baku dan input produksi. Peningkatan pembelian menunjukkan perusahaan masih mempersiapkan aktivitas produksi di tengah permintaan yang kuat.
Namun, persediaan pembelian kembali mengalami penurunan marginal. Penurunan tersebut terjadi bersamaan dengan penurunan tenaga kerja yang juga relatif terbatas.
Backlog Meningkat dan Tekanan Kapasitas Tetap Tinggi
Pekerjaan yang belum terselesaikan atau backlog terus meningkat pada Agustus. Laju kenaikannya tercatat sama dengan Juli.
Peningkatan backlog menunjukkan perusahaan masih menghadapi tekanan dalam memenuhi seluruh pekerjaan yang masuk. Kondisi tersebut dapat mencerminkan tingginya permintaan dibandingkan kapasitas produksi yang tersedia.
Baca Juga “PMI Manufaktur Indonesia Turun ke 49,8 pada Agustus 2026“
Baluch menilai perlambatan produksi tidak serta-merta menghilangkan prospek penguatan sektor manufaktur. Tekanan terhadap kapasitas dan aktivitas pembelian masih menunjukkan adanya permintaan yang berkelanjutan.
“Pertumbuhan produksi sedikit melambat, tetapi tetap solid secara keseluruhan,” kata Baluch.
Ia menilai penurunan tenaga kerja dan persediaan pembelian kemungkinan bersifat sementara. Tekanan kapasitas, aktivitas pembelian, serta tanda-tanda pemulihan rantai pasok menjadi sejumlah faktor pendukung.
Keyakinan Bisnis Capai Level Tertinggi Hampir Empat Tahun
Optimisme perusahaan manufaktur ASEAN terhadap produksi dalam 12 bulan mendatang meningkat pada Agustus. Indeks Aktivitas Masa Depan naik selama dua bulan berturut-turut.
Indeks tersebut mencapai level tertinggi dalam hampir empat tahun. Kenaikan ini menunjukkan pelaku usaha semakin percaya diri terhadap prospek produksi meskipun kondisi ekonomi global masih menghadapi berbagai tantangan.
Peningkatan keyakinan bisnis menjadi sinyal positif bagi aktivitas manufaktur kawasan. Optimisme yang lebih tinggi dapat mendorong perusahaan mempersiapkan kapasitas dan aktivitas produksi untuk memenuhi permintaan mendatang.
Tekanan Harga Mulai Mereda
Selain permintaan yang kuat, tekanan harga juga menunjukkan perkembangan yang lebih positif. S&P Global mencatat tekanan harga mereda pada Agustus.
Kondisi tersebut dapat memberikan ruang bagi perusahaan untuk mengelola biaya produksi dengan lebih baik. Meredanya tekanan harga juga menjadi salah satu faktor yang mendukung peningkatan keyakinan pelaku usaha.
Baluch mengatakan kondisi tersebut menempatkan kawasan ASEAN pada posisi yang cukup baik untuk mempertahankan momentum pertumbuhan.
“Tingkat keyakinan juga menguat, sementara tekanan harga mereda, menunjukkan bahwa kawasan ini berada dalam posisi yang baik untuk terus meningkatkan momentum,” ujarnya.
Prospek Manufaktur ASEAN Tetap Positif
Kinerja manufaktur ASEAN pada Agustus memperlihatkan kombinasi antara perlambatan produksi dan penguatan permintaan. PMI memang turun dari 52,8 menjadi 52,3, tetapi indeks tetap berada dalam zona ekspansi.
Pertumbuhan pesanan baru yang mendekati rekor memberikan dukungan terhadap prospek aktivitas industri. Peningkatan backlog juga menunjukkan kapasitas produksi masih menghadapi tekanan.
Optimisme bisnis yang mencapai level tertinggi hampir empat tahun menjadi faktor tambahan yang memperkuat prospek kawasan. Perkembangan tersebut menunjukkan pelaku usaha melihat peluang pertumbuhan produksi dalam beberapa bulan mendatang.
S&P Global menilai kondisi manufaktur ASEAN memiliki peluang mempertahankan momentum pada paruh kedua 2026. Triwulan ketiga juga diperkirakan dapat mencatat kinerja lebih kuat dibandingkan periode sebelumnya.
Ke depan, kekuatan permintaan, kemampuan perusahaan meningkatkan produksi, kondisi rantai pasok, serta perkembangan harga akan menjadi faktor penting. Kombinasi faktor tersebut akan menentukan apakah ekspansi manufaktur ASEAN dapat bertahan hingga akhir 2026.
Baca Juga “Indeks Kospi Rabu Ditutup Turun Tajam; Saham Teknologi dan Manufaktur Merosot“