<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>rupiah Archives - arventra.id</title>
	<atom:link href="https://arventra.id/tag/rupiah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://arventra.id/tag/rupiah/</link>
	<description>Wawasan Inovasi Industri &#38; Teknologi Manufaktur Masa Depan</description>
	<lastBuildDate>Fri, 29 May 2026 14:44:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>
	<item>
		<title>Rupiah Melemah, 20 Ribu Buruh Terancam PHK di Industri</title>
		<link>https://arventra.id/2026/05/29/rupiah-melemah-20-ribu-buruh-terancam-phk-di-industri/</link>
					<comments>https://arventra.id/2026/05/29/rupiah-melemah-20-ribu-buruh-terancam-phk-di-industri/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[setnis]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 May 2026 14:44:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Suplai Rantai & Logistik Digital]]></category>
		<category><![CDATA[industri]]></category>
		<category><![CDATA[rupiah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://arventra.id/?p=265</guid>

					<description><![CDATA[<p>CORE Proyeksikan Hingga 20 Ribu Pekerja Terancam PHK Akibat Pelemahan Rupiah dan Kenaikan Biaya Impor Tekanan ekonomi global diperkirakan masih membayangi pasar tenaga kerja Indonesia sepanjang kuartal II 2026.&#160;Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memperkirakan tambahan pemutusan hubungan kerja (PHK) dapat mencapai 15,3 ribu hingga 20,3 ribu pekerja akibat meningkatnya biaya produksi yang dihadapi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://arventra.id/2026/05/29/rupiah-melemah-20-ribu-buruh-terancam-phk-di-industri/">Rupiah Melemah, 20 Ribu Buruh Terancam PHK di Industri</a> appeared first on <a href="https://arventra.id">arventra.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">CORE Proyeksikan Hingga 20 Ribu Pekerja Terancam PHK Akibat Pelemahan Rupiah dan Kenaikan Biaya Impor</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tekanan ekonomi global diperkirakan masih membayangi pasar tenaga kerja Indonesia sepanjang kuartal II 2026.&nbsp;<mark>Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memperkirakan tambahan pemutusan hubungan kerja (PHK) dapat mencapai 15,3 ribu hingga 20,3 ribu pekerja akibat meningkatnya biaya produksi yang dihadapi pelaku usaha.</mark></p>



<p class="wp-block-paragraph">Pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga impor bahan baku, serta gangguan rantai pasok global yang dipicu konflik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang memperbesar risiko PHK. Sektor manufaktur diprediksi menjadi industri yang paling terdampak oleh tekanan tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sektor Manufaktur Diperkirakan Menanggung Beban PHK Terbesar</p>



<p class="wp-block-paragraph">Proyeksi tersebut tertuang dalam publikasi CORE Indonesia berjudul &#8220;Badai PHK (Belum) Berlalu&#8221; yang disusun oleh Yusuf Rendy Manilet, Azhar Syahida, Dwi Setyorini, dan Lailatun Nikmah.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><mark>Dalam laporannya, CORE memperkirakan sektor manufaktur berpotensi mengalami PHK antara 8,7 ribu hingga 12,1 ribu pekerja.</mark>&nbsp;Angka tersebut menjadi yang terbesar dibandingkan sektor lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu, sektor jasa diproyeksikan mengalami pengurangan tenaga kerja sekitar 3,3 ribu hingga 4,5 ribu pekerja. Di sektor pertanian, jumlah pekerja yang berpotensi terdampak PHK diperkirakan berada pada kisaran 3,3 ribu hingga 3,6 ribu orang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut CORE, tekanan terhadap industri manufaktur terjadi karena banyak perusahaan masih bergantung pada bahan baku impor. Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya produksi otomatis meningkat dan mengurangi ruang bagi perusahaan untuk mempertahankan tingkat produksi maupun tenaga kerja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Baca Juga &#8220;<strong><em><a href="https://www.suara.com/bisnis/2026/05/29/141520/penguatan-industri-bahan-baku-kunci-jaga-ketahanan-industri-di-tengah-pelemahan-rupiah">Penguatan Industri Bahan Baku Kunci Jaga Ketahanan Industri di Tengah Pelemahan Rupiah</a></em></strong>&#8220;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pelemahan Rupiah dan Gangguan Selat Hormuz Jadi Faktor Utama</p>



<p class="wp-block-paragraph">CORE menyusun proyeksi tersebut menggunakan Tabel Input-Output 2020 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS). Analisis dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah skenario ekonomi yang berpotensi terjadi dalam beberapa bulan mendatang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu asumsi utama adalah berlanjutnya hambatan distribusi di Selat Hormuz selama dua hingga tiga bulan. Jalur pelayaran strategis tersebut merupakan salah satu rute perdagangan energi dan bahan baku penting dunia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, CORE juga memasukkan asumsi pelemahan nilai tukar rupiah hingga melampaui level Rp17.400 per dolar AS. Kondisi tersebut dinilai dapat memperbesar biaya impor bahan baku yang dibutuhkan industri nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam skenario moderat, perusahaan manufaktur yang mengalami kenaikan harga input lebih dari 1,5 persen diperkirakan memangkas output produksi sebesar 0,1 persen. Namun dalam skenario yang lebih buruk, penurunan output dapat mencapai 0,15 persen.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penurunan produksi tersebut berpotensi mendorong perusahaan melakukan efisiensi, termasuk melalui pengurangan jumlah tenaga kerja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pasar Tenaga Kerja Dinilai Semakin Rentan</p>



<p class="wp-block-paragraph">CORE menilai tambahan PHK tidak hanya berdampak pada meningkatnya angka pengangguran. Kondisi tersebut juga berpotensi memperbesar jumlah pekerja yang beralih ke sektor informal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Data per Februari 2026 menunjukkan jumlah tenaga kerja informal telah mencapai 87,74 juta orang atau sekitar 59,42 persen dari total tenaga kerja aktif di Indonesia. Angka tersebut menunjukkan dominasi sektor informal dalam struktur ketenagakerjaan nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lembaga tersebut juga mencatat pertumbuhan tenaga kerja formal selama periode 2021 hingga 2025 hanya mencapai 0,8 persen. Sebaliknya, sektor informal tumbuh lebih cepat dengan rata-rata kenaikan 3,2 persen.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketimpangan tersebut mencerminkan terbatasnya penciptaan lapangan kerja formal di tengah pertumbuhan angkatan kerja yang terus berlangsung setiap tahun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penyerapan Tenaga Kerja Baru Melambat Tajam</p>



<p class="wp-block-paragraph">Laporan CORE juga menyoroti penurunan signifikan dalam kemampuan pasar kerja menyerap tenaga kerja baru. Pada Februari 2026, jumlah angkatan kerja baru yang berhasil memperoleh pekerjaan hanya sekitar 38 ribu orang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jumlah tersebut turun sekitar 86 persen dibandingkan rata-rata periode 2022 hingga 2025 maupun periode 2010 hingga 2019. Penurunan tajam ini menunjukkan bahwa tantangan pasar tenaga kerja tidak hanya berasal dari tekanan global, tetapi juga dari persoalan struktural yang telah berlangsung cukup lama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">CORE menilai faktor eksternal memang menjadi pemicu utama meningkatnya risiko PHK saat ini. Namun, lemahnya pertumbuhan lapangan kerja formal dalam lebih dari satu dekade terakhir turut memperbesar dampak yang dirasakan pekerja ketika ekonomi menghadapi guncangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Risiko PHK Jadi Pengingat Pentingnya Ketahanan Industri</p>



<p class="wp-block-paragraph">Proyeksi tambahan PHK hingga 20 ribu pekerja menjadi sinyal bahwa dunia usaha masih menghadapi tantangan berat sepanjang 2026. Pelemahan rupiah, ketidakpastian geopolitik, dan kenaikan biaya impor dapat memberikan tekanan berlapis terhadap sektor industri yang bergantung pada bahan baku luar negeri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ke depan, penguatan industri domestik, diversifikasi sumber bahan baku, serta peningkatan investasi pada sektor produktif dinilai menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Tanpa perbaikan struktural yang berkelanjutan, pasar tenaga kerja Indonesia akan tetap rentan menghadapi gejolak ekonomi global yang terjadi sewaktu-waktu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Baca Juga &#8220;<strong><em><a href="https://www.jpnn.com/news/produsen-boneka-di-ngawi-dapat-fasilitas-kawasan-berikat-ekspor-makin-memelesat">Produsen Boneka di Ngawi Dapat Fasilitas Kawasan Berikat, Ekspor Makin Memelesat</a></em></strong>&#8220;</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
<p>The post <a href="https://arventra.id/2026/05/29/rupiah-melemah-20-ribu-buruh-terancam-phk-di-industri/">Rupiah Melemah, 20 Ribu Buruh Terancam PHK di Industri</a> appeared first on <a href="https://arventra.id">arventra.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://arventra.id/2026/05/29/rupiah-melemah-20-ribu-buruh-terancam-phk-di-industri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pelemahan Rupiah Tekan Industri Manufaktur Nasional</title>
		<link>https://arventra.id/2026/05/24/pelemahan-rupiah-tekan-industri-manufaktur-nasional/</link>
					<comments>https://arventra.id/2026/05/24/pelemahan-rupiah-tekan-industri-manufaktur-nasional/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[setnis]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 May 2026 11:11:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Otomasi & Robotika Industri]]></category>
		<category><![CDATA[industri]]></category>
		<category><![CDATA[manufaktur]]></category>
		<category><![CDATA[nasional]]></category>
		<category><![CDATA[rupiah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://arventra.id/?p=251</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pelemahan Rupiah Dinilai Membebani Industri Manufaktur dan Mendorong Kenaikan Harga Barang Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi perhatian pelaku industri nasional. Kondisi tersebut dinilai tidak selalu membawa keuntungan bagi perekonomian Indonesia, terutama bagi sektor manufaktur yang masih bergantung pada bahan baku impor. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, pelemahan rupiah justru berpotensi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://arventra.id/2026/05/24/pelemahan-rupiah-tekan-industri-manufaktur-nasional/">Pelemahan Rupiah Tekan Industri Manufaktur Nasional</a> appeared first on <a href="https://arventra.id">arventra.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Pelemahan Rupiah Dinilai Membebani Industri Manufaktur dan Mendorong Kenaikan Harga Barang</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi perhatian pelaku industri nasional. Kondisi tersebut dinilai tidak selalu membawa keuntungan bagi perekonomian Indonesia, terutama bagi sektor manufaktur yang masih bergantung pada bahan baku impor.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tengah ketidakpastian ekonomi global, pelemahan rupiah justru berpotensi meningkatkan biaya produksi industri. Dampaknya dapat meluas hingga memicu kenaikan harga barang di pasar domestik dan memperbesar tekanan inflasi nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kepala Ekonom PermataBank, Josua Pardede, menilai pandangan yang menyebut rupiah lemah otomatis menguntungkan ekonomi nasional perlu dilihat secara lebih objektif.&nbsp;<mark>Menurut dia, struktur industri Indonesia saat ini masih sangat bergantung pada impor bahan baku dan barang penolong.</mark></p>



<p class="wp-block-paragraph">Baca Juga &#8220;<strong><em><a href="https://www.vietnam.vn/id/tiep-suc-cho-doanh-nghiep-san-xuat-kinh-doanh">Mendukung perusahaan manufaktur dan bisnis</a></em></strong>.&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketergantungan Impor Jadi Tantangan Besar Industri Manufaktur</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam paparannya di Makassar, Jumat (22/5/2026), Josua menjelaskan pelemahan rupiah memang dapat menguntungkan eksportir berbasis komoditas. Perusahaan yang menerima pendapatan dalam dolar AS akan memperoleh nilai tukar lebih tinggi ketika dikonversi ke rupiah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun kondisi tersebut tidak sepenuhnya berlaku bagi sektor manufaktur. Banyak industri di Indonesia masih mengimpor bahan baku utama untuk mendukung proses produksi dalam negeri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika rupiah melemah terhadap dolar AS, biaya pembelian bahan baku impor ikut meningkat. Perusahaan harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk mempertahankan kapasitas produksi yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><mark>“Kalau kita bicara industri manufaktur yang mesti mengimpor dulu bahan baku, ini pasti akan memberatkan,” ujar Josua.</mark></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia menjelaskan sebagian besar impor Indonesia bukan hanya digunakan untuk barang ekspor, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan produksi domestik. Karena itu, kenaikan harga impor akan langsung memengaruhi biaya produksi industri nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kondisi ini memicu apa yang disebut sebagai import inflation atau inflasi impor. Ketika harga bahan baku naik akibat pelemahan rupiah, perusahaan cenderung menaikkan harga jual produk agar margin usaha tetap terjaga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kenaikan Biaya Produksi Bisa Tekan Daya Beli Masyarakat</p>



<p class="wp-block-paragraph">Peningkatan biaya produksi dinilai dapat menciptakan efek berantai terhadap perekonomian nasional. Harga barang yang lebih mahal berpotensi menekan daya beli masyarakat, terutama pada kelompok konsumen menengah dan bawah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika daya beli melemah, konsumsi rumah tangga dapat melambat. Padahal konsumsi domestik masih menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, pelaku industri juga menghadapi tantangan tambahan berupa kenaikan biaya logistik dan energi. Kombinasi berbagai faktor tersebut membuat tekanan terhadap sektor manufaktur semakin besar ketika nilai tukar rupiah mengalami pelemahan tajam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Josua, anggapan bahwa rupiah lemah otomatis memberikan keuntungan bagi Indonesia menjadi kurang relevan jika melihat struktur ekonomi saat ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><mark>“Pernyataan bahwa Indonesia diuntungkan dengan adanya kelemahan rupiah itu menyesatkan kalau kita melihat struktur ekonomi kita,” katanya.</mark></p>



<p class="wp-block-paragraph">Stabilitas Nilai Tukar Lebih Penting bagi Dunia Usaha</p>



<p class="wp-block-paragraph">Josua menilai dunia usaha sebenarnya lebih membutuhkan stabilitas nilai tukar dibanding rupiah yang terlalu kuat atau terlalu lemah. Kepastian kurs sangat penting agar perusahaan dapat menyusun strategi bisnis dan menghitung biaya operasional secara akurat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Banyak perusahaan manufaktur merencanakan impor bahan baku untuk kebutuhan produksi beberapa bulan ke depan. Fluktuasi kurs yang terlalu tinggi membuat perusahaan sulit menentukan anggaran dan harga jual produk.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Bagi para pebisnis, yang diharapkan adalah stabilitas.&nbsp;<mark>Mereka perlu mengatur impor tiga bulan lagi atau enam bulan lagi, sehingga ada kepastian dalam perencanaan biaya,” jelasnya.</mark></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketidakpastian nilai tukar juga dapat memengaruhi keputusan investasi. Investor cenderung menahan ekspansi usaha ketika kondisi pasar valuta asing terlalu bergejolak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam jangka panjang, situasi tersebut bisa memengaruhi penciptaan lapangan kerja dan kapasitas produksi industri nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Peran Bank Indonesia Menjaga Stabilitas Rupiah</p>



<p class="wp-block-paragraph">Josua juga menekankan pentingnya peran Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Menurut dia, tugas utama bank sentral bukan mempertahankan rupiah pada angka tertentu, tetapi menjaga volatilitas agar tetap terkendali.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Stabilitas kurs diperlukan untuk menjaga kepercayaan pasar dan menciptakan iklim usaha yang sehat. Nilai tukar yang terlalu fluktuatif dapat meningkatkan risiko bisnis dan mengganggu aktivitas perdagangan maupun investasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam beberapa tahun terakhir, pergerakan rupiah dipengaruhi berbagai faktor global. Kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, ketegangan geopolitik, hingga perlambatan ekonomi dunia turut memberi tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Arus modal asing yang keluar dari pasar negara berkembang juga dapat memperburuk tekanan terhadap rupiah. Ketika investor global memilih aset yang dianggap lebih aman, permintaan dolar meningkat dan membuat mata uang domestik melemah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Industri Nasional Perlu Kurangi Ketergantungan Impor</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pengamat ekonomi menilai pelemahan rupiah menjadi pengingat penting bagi Indonesia untuk memperkuat struktur industri dalam negeri. Ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor membuat sektor manufaktur rentan terhadap gejolak eksternal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Peningkatan penggunaan bahan baku lokal dan pengembangan industri hulu dinilai dapat membantu mengurangi tekanan biaya produksi. Langkah tersebut juga penting untuk memperkuat ketahanan industri nasional dalam jangka panjang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, diversifikasi sumber bahan baku dan peningkatan efisiensi produksi dapat menjadi strategi untuk menghadapi fluktuasi nilai tukar. Pelaku usaha juga perlu memperkuat manajemen risiko terhadap perubahan kurs mata uang asing.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemerintah dan pelaku industri diharapkan dapat bekerja sama mempercepat hilirisasi dan pengembangan sektor manufaktur domestik. Dengan struktur industri yang lebih kuat, dampak pelemahan rupiah terhadap ekonomi nasional dapat ditekan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pelemahan Rupiah Jadi Alarm bagi Ketahanan Ekonomi Nasional</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada sektor keuangan, tetapi juga memengaruhi aktivitas industri dan konsumsi masyarakat. Ketika biaya impor meningkat, tekanan terhadap harga barang dan inflasi menjadi semakin besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena itu, stabilitas nilai tukar tetap menjadi faktor penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi nasional. Dunia usaha membutuhkan kepastian agar dapat menjalankan produksi, investasi, dan ekspansi bisnis secara lebih terukur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tengah tantangan global yang masih berlangsung, penguatan industri dalam negeri menjadi langkah penting agar ekonomi Indonesia tidak terlalu rentan terhadap gejolak eksternal. Dengan ketahanan industri yang lebih baik, tekanan akibat pelemahan rupiah dapat diminimalkan di masa mendatang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Baca Juga &#8220;<strong><em><a href="https://id.investing.com/news/company-news/globalfoundries-meluncurkan-bisnis-manufaktur-kuantum-93CH-2971616">GlobalFoundries meluncurkan bisnis manufaktur kuantum</a></em></strong>&#8220;</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
<p>The post <a href="https://arventra.id/2026/05/24/pelemahan-rupiah-tekan-industri-manufaktur-nasional/">Pelemahan Rupiah Tekan Industri Manufaktur Nasional</a> appeared first on <a href="https://arventra.id">arventra.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://arventra.id/2026/05/24/pelemahan-rupiah-tekan-industri-manufaktur-nasional/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pelemahan Rupiah Tekan Manufaktur Bergantung Impor</title>
		<link>https://arventra.id/2026/05/17/pelemahan-rupiah-tekan-manufaktur-bergantung-impor/</link>
					<comments>https://arventra.id/2026/05/17/pelemahan-rupiah-tekan-manufaktur-bergantung-impor/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[setnis]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 May 2026 08:22:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Energi Terbarukan untuk Industri]]></category>
		<category><![CDATA[impor]]></category>
		<category><![CDATA[manufaktur]]></category>
		<category><![CDATA[rupiah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://arventra.id/?p=232</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pelemahan Rupiah Tekan Industri Manufaktur yang Bergantung pada Impor Pelemahan nilai tukar rupiah memberikan tekanan besar terhadap sektor manufaktur nasional. Industri ini dinilai paling rentan terdampak karena sebagian besar bahan baku produksi masih bergantung pada impor dari luar negeri. Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Bob Azam, mengatakan ketergantungan tinggi terhadap pasokan global membuat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://arventra.id/2026/05/17/pelemahan-rupiah-tekan-manufaktur-bergantung-impor/">Pelemahan Rupiah Tekan Manufaktur Bergantung Impor</a> appeared first on <a href="https://arventra.id">arventra.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Pelemahan Rupiah Tekan Industri Manufaktur yang Bergantung pada Impor</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pelemahan nilai tukar rupiah memberikan tekanan besar terhadap sektor manufaktur nasional. Industri ini dinilai paling rentan terdampak karena sebagian besar bahan baku produksi masih bergantung pada impor dari luar negeri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Bob Azam, mengatakan ketergantungan tinggi terhadap pasokan global membuat fluktuasi kurs langsung memengaruhi biaya operasional industri dalam negeri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Baca Juga &#8220;<strong><em><a href="https://www.vietnam.vn/id/thi-truong-chung-khoan-giup-doanh-nghiep-minh-bach-quan-tri">Pasar saham membantu bisnis meningkatkan transparansi tata kelola mereka.</a></em></strong>&#8220;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Bob, sekitar 70 persen bahan baku sektor manufaktur masih berasal dari impor. Kondisi tersebut membuat depresiasi rupiah berdampak langsung pada kenaikan biaya produksi perusahaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kenaikan Biaya Impor Perberat Beban Produksi Manufaktur</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bob menjelaskan nilai tukar rupiah telah terdepresiasi lebih dari tujuh persen dalam satu tahun terakhir. Pelemahan tersebut menyebabkan harga bahan baku impor meningkat secara signifikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><mark>“Sektor manufaktur paling kena karena 70 persen bahan bakunya masih impor,” kata Bob dalam dialog program bisnis di Kompas TV.</mark></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia menambahkan kenaikan biaya produksi kini tidak lagi berada pada level satu digit. Banyak perusahaan harus menghadapi lonjakan pengeluaran operasional hingga dua digit akibat kenaikan harga bahan baku dan biaya logistik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kondisi ini memaksa pelaku industri melakukan efisiensi internal untuk menjaga kelangsungan bisnis di tengah tekanan ekonomi global.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gangguan Rantai Pasok dan Konflik Global Picu Lonjakan Harga</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain pelemahan rupiah, industri manufaktur juga menghadapi masalah gangguan rantai pasok global. Kelangkaan barang di pasar internasional membuat banyak trader mengalihkan distribusi ke pasar spot yang memiliki harga lebih tinggi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Bob, perpindahan pasokan tersebut menyebabkan harga bahan baku terus mengalami kenaikan di pasar global.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><mark>“Saat ini supply shortage terjadi dan banyak barang dipindahkan ke pasar spot karena pasokan kurang.</mark>&nbsp;Akibatnya harga otomatis naik,” ujarnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Situasi tersebut diperparah oleh konflik geopolitik dan hambatan logistik internasional.&nbsp;<mark>Ketegangan di kawasan perdagangan global seperti Selat Hormuz turut memengaruhi distribusi barang dan biaya pengiriman.</mark></p>



<p class="wp-block-paragraph">Capital Outflow dan Ketidakpastian Global Tekan Rupiah</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bob juga menilai ketidakpastian ekonomi global memicu arus modal keluar atau capital outflow dari pasar keuangan Indonesia. Kondisi ini terjadi di pasar saham maupun obligasi dan berdampak terhadap pelemahan nilai tukar rupiah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurutnya, faktor eksternal seperti perang, gangguan logistik, dan ketidakpastian ekonomi global menjadi kombinasi tekanan yang sulit dihindari industri nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Nah ini dipengaruhi logistik, perang, Selat Hormuz, dan ketidakpastian global yang membuat capital outflow dari pasar modal kita,” kata Bob.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pelemahan rupiah akibat keluarnya modal asing memperbesar beban perusahaan yang masih mengandalkan bahan baku impor untuk produksi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Daya Beli Lemah Batasi Kenaikan Harga Produk</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tengah lonjakan biaya produksi, perusahaan menghadapi tantangan lain berupa melemahnya daya beli masyarakat. Kondisi ini membuat pelaku usaha sulit menaikkan harga jual produk ke pasar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bob menilai ruang penyesuaian harga kini sangat terbatas karena konsumen cenderung menahan belanja di tengah tekanan ekonomi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Untuk menaikkan harga hampir tidak mungkin karena daya beli masyarakat juga sedang rendah,” ujarnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Situasi tersebut menciptakan dilema bagi industri manufaktur. Di satu sisi biaya produksi meningkat tajam, tetapi di sisi lain perusahaan tidak bisa sepenuhnya membebankan kenaikan biaya kepada konsumen.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Industri Manufaktur Dipaksa Perkuat Efisiensi Produksi Domestik</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tekanan biaya produksi membuat perusahaan harus mencari strategi bertahan yang lebih efisien. Banyak industri mulai memperketat pengeluaran operasional dan memaksimalkan kapasitas produksi dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan impor.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penguatan rantai pasok lokal dinilai menjadi langkah penting agar industri manufaktur lebih tahan terhadap gejolak nilai tukar dan gangguan ekonomi global di masa depan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, percepatan substitusi impor juga dinilai dapat membantu menekan risiko kenaikan biaya produksi ketika rupiah mengalami pelemahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketergantungan Impor Jadi Tantangan Besar Industri Nasional</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pelemahan rupiah kembali menunjukkan besarnya tantangan sektor manufaktur Indonesia yang masih bergantung pada bahan baku impor. Ketika kurs melemah, biaya produksi langsung meningkat dan memengaruhi daya saing industri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya penguatan industri hulu dan pengembangan bahan baku lokal untuk menciptakan struktur manufaktur yang lebih mandiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tengah ketidakpastian global, pelaku usaha kini dituntut lebih adaptif dalam mengelola biaya, menjaga efisiensi, dan memperkuat ketahanan produksi domestik agar mampu bertahan dalam tekanan ekonomi jangka panjang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Baca Juga &#8220;<strong><em><a href="Integrasi Sistem Jadi Kunci Daya Saing Industri Manufaktur">Epicor: Integrasi Sistem Jadi Kunci Daya Saing Industri Manufaktur</a></em></strong>&#8220;</p>
<p>The post <a href="https://arventra.id/2026/05/17/pelemahan-rupiah-tekan-manufaktur-bergantung-impor/">Pelemahan Rupiah Tekan Manufaktur Bergantung Impor</a> appeared first on <a href="https://arventra.id">arventra.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://arventra.id/2026/05/17/pelemahan-rupiah-tekan-manufaktur-bergantung-impor/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pelemahan Rupiah Kian Tekan Sektor Manufaktur</title>
		<link>https://arventra.id/2026/05/14/pelemahan-rupiah-kian-tekan-sektor-manufaktur/</link>
					<comments>https://arventra.id/2026/05/14/pelemahan-rupiah-kian-tekan-sektor-manufaktur/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[setnis]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 May 2026 08:41:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Otomasi & Robotika Industri]]></category>
		<category><![CDATA[manufaktur]]></category>
		<category><![CDATA[rupiah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://arventra.id/?p=228</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pelemahan Rupiah ke Rp17.500 per Dolar AS Tekan Industri Manufaktur Nasional Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat semakin membebani sektor manufaktur Indonesia pada kuartal I 2026. Tekanan kurs dinilai meningkatkan biaya produksi industri, terutama bagi perusahaan yang masih bergantung pada impor bahan baku, mesin, dan energi berbasis dolar AS. Baca Juga &#8220;Perusahaan manufaktur [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://arventra.id/2026/05/14/pelemahan-rupiah-kian-tekan-sektor-manufaktur/">Pelemahan Rupiah Kian Tekan Sektor Manufaktur</a> appeared first on <a href="https://arventra.id">arventra.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Pelemahan Rupiah ke Rp17.500 per Dolar AS Tekan Industri Manufaktur Nasional</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat semakin membebani sektor manufaktur Indonesia pada kuartal I 2026. Tekanan kurs dinilai meningkatkan biaya produksi industri, terutama bagi perusahaan yang masih bergantung pada impor bahan baku, mesin, dan energi berbasis dolar AS.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Baca Juga &#8220;<strong><em><a href="https://www.vietnam.vn/id/doanh-nghiep-san-xuat-chay-dua-chuyen-doi-so">Perusahaan manufaktur berlomba-lomba untuk menjalani transformasi digital.</a></em></strong>&#8220;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nilai tukar rupiah tercatat melemah hingga Rp17.529 per dolar AS pada perdagangan 12 Mei 2026. Berdasarkan data RTI Infokom, rupiah turun 0,66 persen atau 115 poin dibanding perdagangan sebelumnya. Pada saat yang sama, indeks dolar AS menguat ke level 98,25.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tekanan terhadap sektor industri muncul di tengah perlambatan aktivitas manufaktur nasional. Data S&amp;P Global menunjukkan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia turun dari 50,1 pada Maret menjadi 49,1 pada April 2026.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Posisi PMI di bawah angka 50 menandakan sektor manufaktur kembali memasuki zona kontraksi. Kondisi tersebut menjadi kontraksi pertama dalam sembilan bulan terakhir dan mencerminkan perlambatan aktivitas produksi serta permintaan industri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pelemahan Rupiah Tingkatkan Beban Biaya Produksi Industri</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, menilai pelemahan rupiah menjadi tekanan serius bagi sektor manufaktur nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Rizal, kenaikan kurs dolar membuat biaya impor bahan baku, mesin produksi, komponen industri, dan energi menjadi lebih mahal. Kondisi itu menyebabkan margin keuntungan perusahaan semakin tertekan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Pelemahan rupiah ke kisaran Rp17.500 per dolar AS jelas menekan industri manufaktur, terutama yang masih bergantung pada bahan baku impor,” ujar Rizal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia menjelaskan dampak pelemahan rupiah tidak hanya terasa pada biaya produksi. Di pasar domestik, produsen berpotensi menaikkan harga jual produk untuk menutupi kenaikan biaya operasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, kenaikan harga berisiko menekan daya beli masyarakat yang masih terbatas. Jika permintaan domestik melemah, perusahaan akan menghadapi tantangan baru dalam menjaga volume penjualan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sisi lain, pelemahan rupiah memang dapat meningkatkan daya saing harga ekspor Indonesia. Meski demikian, manfaat tersebut dinilai belum optimal bagi industri yang kandungan impornya masih tinggi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Industri Farmasi hingga Tekstil Jadi Sektor Paling Rentan</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rizal menyebut sejumlah sektor manufaktur memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap fluktuasi nilai tukar. Industri tersebut antara lain farmasi, kimia, elektronik, otomotif, tekstil tertentu, makanan dan minuman berbahan impor, hingga industri berbasis energi dolar AS.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagian besar industri tersebut menghadapi mismatch antara biaya produksi dalam dolar AS dan pendapatan yang masih berbasis rupiah. Ketika kurs melonjak, biaya operasional naik lebih cepat dibanding pendapatan perusahaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Rizal, perusahaan akan menghadapi dilema antara menaikkan harga produk atau mempertahankan harga demi menjaga permintaan pasar. Kedua pilihan tersebut sama-sama berisiko terhadap profitabilitas usaha.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><mark>“Jika industri tidak mampu menaikkan harga jual, margin akan turun.</mark>&nbsp;Jika harga dinaikkan, permintaan domestik bisa melemah,” katanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain menekan operasional, volatilitas rupiah juga dinilai dapat membuat dunia usaha menahan ekspansi dan investasi baru. Pelaku industri disebut mulai menghitung ulang biaya impor mesin, cicilan utang valuta asing, hingga risiko pasar domestik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Padahal, ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 masih tumbuh 5,61 persen. Sementara itu, sektor manufaktur mencatat pertumbuhan 5,04 persen meski aktivitas industri mulai melambat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Risiko PHK dan Inflasi Impor Mulai Diwaspadai</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rizal mengingatkan pelemahan rupiah juga berpotensi memicu imported inflation atau inflasi impor apabila berlangsung dalam jangka panjang. Kenaikan kurs dapat mendorong harga bahan baku industri, energi, obat-obatan, pangan impor, hingga barang elektronik meningkat pada semester berikutnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tekanan tersebut berisiko memperbesar biaya hidup masyarakat sekaligus memperlemah konsumsi rumah tangga. Jika kondisi berlanjut, sektor industri padat karya dinilai paling rentan terkena dampak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Rizal, risiko pemutusan hubungan kerja atau PHK memang belum terlihat secara langsung. Namun, industri dengan margin tipis berpotensi mengurangi shift kerja, menunda perekrutan, hingga menurunkan kapasitas produksi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sektor tekstil, elektronik, dan industri berbahan impor disebut menjadi kelompok yang perlu diwaspadai. Industri tersebut menghadapi tekanan ganda berupa kenaikan biaya produksi dan lemahnya permintaan pasar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hipmi Minta Pemerintah Perkuat Stabilitas Rupiah</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Anggawira, menilai pelemahan rupiah telah menjadi ancaman serius bagi ketahanan industri nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurutnya, tekanan kurs saat ini bukan lagi sekadar persoalan pasar keuangan. Pelemahan rupiah telah masuk ke struktur biaya industri dan memengaruhi arus kas perusahaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kalau tidak dikelola dengan baik, margin usaha akan tergerus dan daya tahan industri nasional bisa melemah,” ujar Anggawira.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hipmi meminta pemerintah dan Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar melalui kebijakan yang konsisten dan kredibel. Selain itu, dunia usaha juga membutuhkan dukungan berupa fasilitas lindung nilai atau hedging, insentif pembiayaan, dan percepatan substitusi impor.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Anggawira menilai volatilitas kurs seharusnya menjadi momentum untuk mempercepat pendalaman struktur industri nasional. Ketergantungan terhadap impor bahan baku dinilai perlu dikurangi agar industri lebih tahan terhadap gejolak global.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Industri Tekstil dan Cat Mulai Atur Strategi Bertahan</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tekanan kurs mulai dirasakan langsung oleh pelaku industri tekstil nasional.&nbsp;<mark>Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), Farhan Aqil Syauqi, mengatakan harga bahan baku tekstil impor semakin fluktuatif akibat pelemahan rupiah.</mark></p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahan baku seperti mono ethylene glycol (MEG) dan paraxylene (PX) masih bergantung pada impor sehingga sangat sensitif terhadap perubahan kurs dolar AS.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk bertahan, pelaku industri tekstil mulai melakukan renegosiasi kontrak dengan mitra usaha. Selain itu, perusahaan berupaya menjaga loyalitas pelanggan dan mempertahankan kualitas produk.</p>



<p class="wp-block-paragraph">APSyFI juga meminta pemerintah memberikan insentif berupa pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sementara untuk membantu menjaga likuiditas industri tekstil nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tekanan serupa dialami PT Avia Avian Tbk (AVIA). Head of Investor Relation AVIA, Andreas Timothy Hadikrisno, mengatakan pelemahan rupiah akan meningkatkan biaya bahan baku perusahaan dalam beberapa bulan mendatang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Andreas, dampak kurs belum langsung terasa karena perusahaan masih memiliki persediaan bahan baku untuk dua hingga tiga bulan ke depan. Namun, perusahaan telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">AVIA melakukan pembelian dolar AS secara rutin setiap pekan untuk kebutuhan impor bahan baku. Perusahaan juga mengamankan pasokan melalui kerja sama jangka panjang dengan pemasok.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, AVIA telah dua kali menaikkan harga jual produk sepanjang 2026. Kenaikan pertama dilakukan pada April sebesar 7 hingga 10 persen, sedangkan kenaikan kedua dilakukan pada Mei sebesar 5 persen.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Stabilitas Rupiah Jadi Faktor Penting bagi Industri Nasional</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pelaku usaha menilai stabilitas nilai tukar menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan industri nasional. Ketidakpastian kurs dinilai dapat menahan investasi, memperlambat ekspansi, dan meningkatkan risiko perlambatan ekonomi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ekonom menilai penguatan struktur industri domestik perlu dipercepat agar ketergantungan terhadap impor semakin berkurang. Pemerintah juga didorong mempercepat implementasi devisa hasil ekspor sumber daya alam, memperbaiki logistik, serta memperkuat pasokan devisa nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Baca Juga &#8220;<strong><em><a href="https://www.msn.com/id-id/berita/other/kawan-lama-group-bicara-pengembangan-lini-bisnis-manufaktur/ar-AA22TEZl">Kawan Lama Group bicara pengembangan lini bisnis manufaktur</a></em></strong>&#8220;</p>
<p>The post <a href="https://arventra.id/2026/05/14/pelemahan-rupiah-kian-tekan-sektor-manufaktur/">Pelemahan Rupiah Kian Tekan Sektor Manufaktur</a> appeared first on <a href="https://arventra.id">arventra.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://arventra.id/2026/05/14/pelemahan-rupiah-kian-tekan-sektor-manufaktur/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
