Pelemahan Rupiah Kian Tekan Sektor Manufaktur

rupiah

Pelemahan Rupiah ke Rp17.500 per Dolar AS Tekan Industri Manufaktur Nasional

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat semakin membebani sektor manufaktur Indonesia pada kuartal I 2026. Tekanan kurs dinilai meningkatkan biaya produksi industri, terutama bagi perusahaan yang masih bergantung pada impor bahan baku, mesin, dan energi berbasis dolar AS.

Baca Juga “Perusahaan manufaktur berlomba-lomba untuk menjalani transformasi digital.

Nilai tukar rupiah tercatat melemah hingga Rp17.529 per dolar AS pada perdagangan 12 Mei 2026. Berdasarkan data RTI Infokom, rupiah turun 0,66 persen atau 115 poin dibanding perdagangan sebelumnya. Pada saat yang sama, indeks dolar AS menguat ke level 98,25.

Tekanan terhadap sektor industri muncul di tengah perlambatan aktivitas manufaktur nasional. Data S&P Global menunjukkan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia turun dari 50,1 pada Maret menjadi 49,1 pada April 2026.

Posisi PMI di bawah angka 50 menandakan sektor manufaktur kembali memasuki zona kontraksi. Kondisi tersebut menjadi kontraksi pertama dalam sembilan bulan terakhir dan mencerminkan perlambatan aktivitas produksi serta permintaan industri.

Pelemahan Rupiah Tingkatkan Beban Biaya Produksi Industri

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, menilai pelemahan rupiah menjadi tekanan serius bagi sektor manufaktur nasional.

Menurut Rizal, kenaikan kurs dolar membuat biaya impor bahan baku, mesin produksi, komponen industri, dan energi menjadi lebih mahal. Kondisi itu menyebabkan margin keuntungan perusahaan semakin tertekan.

“Pelemahan rupiah ke kisaran Rp17.500 per dolar AS jelas menekan industri manufaktur, terutama yang masih bergantung pada bahan baku impor,” ujar Rizal.

Ia menjelaskan dampak pelemahan rupiah tidak hanya terasa pada biaya produksi. Di pasar domestik, produsen berpotensi menaikkan harga jual produk untuk menutupi kenaikan biaya operasional.

Namun, kenaikan harga berisiko menekan daya beli masyarakat yang masih terbatas. Jika permintaan domestik melemah, perusahaan akan menghadapi tantangan baru dalam menjaga volume penjualan.

Di sisi lain, pelemahan rupiah memang dapat meningkatkan daya saing harga ekspor Indonesia. Meski demikian, manfaat tersebut dinilai belum optimal bagi industri yang kandungan impornya masih tinggi.

Industri Farmasi hingga Tekstil Jadi Sektor Paling Rentan

Rizal menyebut sejumlah sektor manufaktur memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap fluktuasi nilai tukar. Industri tersebut antara lain farmasi, kimia, elektronik, otomotif, tekstil tertentu, makanan dan minuman berbahan impor, hingga industri berbasis energi dolar AS.

Sebagian besar industri tersebut menghadapi mismatch antara biaya produksi dalam dolar AS dan pendapatan yang masih berbasis rupiah. Ketika kurs melonjak, biaya operasional naik lebih cepat dibanding pendapatan perusahaan.

Menurut Rizal, perusahaan akan menghadapi dilema antara menaikkan harga produk atau mempertahankan harga demi menjaga permintaan pasar. Kedua pilihan tersebut sama-sama berisiko terhadap profitabilitas usaha.

“Jika industri tidak mampu menaikkan harga jual, margin akan turun. Jika harga dinaikkan, permintaan domestik bisa melemah,” katanya.

Selain menekan operasional, volatilitas rupiah juga dinilai dapat membuat dunia usaha menahan ekspansi dan investasi baru. Pelaku industri disebut mulai menghitung ulang biaya impor mesin, cicilan utang valuta asing, hingga risiko pasar domestik.

Padahal, ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 masih tumbuh 5,61 persen. Sementara itu, sektor manufaktur mencatat pertumbuhan 5,04 persen meski aktivitas industri mulai melambat.

Risiko PHK dan Inflasi Impor Mulai Diwaspadai

Rizal mengingatkan pelemahan rupiah juga berpotensi memicu imported inflation atau inflasi impor apabila berlangsung dalam jangka panjang. Kenaikan kurs dapat mendorong harga bahan baku industri, energi, obat-obatan, pangan impor, hingga barang elektronik meningkat pada semester berikutnya.

Tekanan tersebut berisiko memperbesar biaya hidup masyarakat sekaligus memperlemah konsumsi rumah tangga. Jika kondisi berlanjut, sektor industri padat karya dinilai paling rentan terkena dampak.

Menurut Rizal, risiko pemutusan hubungan kerja atau PHK memang belum terlihat secara langsung. Namun, industri dengan margin tipis berpotensi mengurangi shift kerja, menunda perekrutan, hingga menurunkan kapasitas produksi.

Sektor tekstil, elektronik, dan industri berbahan impor disebut menjadi kelompok yang perlu diwaspadai. Industri tersebut menghadapi tekanan ganda berupa kenaikan biaya produksi dan lemahnya permintaan pasar.

Hipmi Minta Pemerintah Perkuat Stabilitas Rupiah

Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Anggawira, menilai pelemahan rupiah telah menjadi ancaman serius bagi ketahanan industri nasional.

Menurutnya, tekanan kurs saat ini bukan lagi sekadar persoalan pasar keuangan. Pelemahan rupiah telah masuk ke struktur biaya industri dan memengaruhi arus kas perusahaan.

“Kalau tidak dikelola dengan baik, margin usaha akan tergerus dan daya tahan industri nasional bisa melemah,” ujar Anggawira.

Hipmi meminta pemerintah dan Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar melalui kebijakan yang konsisten dan kredibel. Selain itu, dunia usaha juga membutuhkan dukungan berupa fasilitas lindung nilai atau hedging, insentif pembiayaan, dan percepatan substitusi impor.

Anggawira menilai volatilitas kurs seharusnya menjadi momentum untuk mempercepat pendalaman struktur industri nasional. Ketergantungan terhadap impor bahan baku dinilai perlu dikurangi agar industri lebih tahan terhadap gejolak global.

Industri Tekstil dan Cat Mulai Atur Strategi Bertahan

Tekanan kurs mulai dirasakan langsung oleh pelaku industri tekstil nasional. Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), Farhan Aqil Syauqi, mengatakan harga bahan baku tekstil impor semakin fluktuatif akibat pelemahan rupiah.

Bahan baku seperti mono ethylene glycol (MEG) dan paraxylene (PX) masih bergantung pada impor sehingga sangat sensitif terhadap perubahan kurs dolar AS.

Untuk bertahan, pelaku industri tekstil mulai melakukan renegosiasi kontrak dengan mitra usaha. Selain itu, perusahaan berupaya menjaga loyalitas pelanggan dan mempertahankan kualitas produk.

APSyFI juga meminta pemerintah memberikan insentif berupa pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sementara untuk membantu menjaga likuiditas industri tekstil nasional.

Tekanan serupa dialami PT Avia Avian Tbk (AVIA). Head of Investor Relation AVIA, Andreas Timothy Hadikrisno, mengatakan pelemahan rupiah akan meningkatkan biaya bahan baku perusahaan dalam beberapa bulan mendatang.

Menurut Andreas, dampak kurs belum langsung terasa karena perusahaan masih memiliki persediaan bahan baku untuk dua hingga tiga bulan ke depan. Namun, perusahaan telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi.

AVIA melakukan pembelian dolar AS secara rutin setiap pekan untuk kebutuhan impor bahan baku. Perusahaan juga mengamankan pasokan melalui kerja sama jangka panjang dengan pemasok.

Selain itu, AVIA telah dua kali menaikkan harga jual produk sepanjang 2026. Kenaikan pertama dilakukan pada April sebesar 7 hingga 10 persen, sedangkan kenaikan kedua dilakukan pada Mei sebesar 5 persen.

Stabilitas Rupiah Jadi Faktor Penting bagi Industri Nasional

Pelaku usaha menilai stabilitas nilai tukar menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan industri nasional. Ketidakpastian kurs dinilai dapat menahan investasi, memperlambat ekspansi, dan meningkatkan risiko perlambatan ekonomi.

Ekonom menilai penguatan struktur industri domestik perlu dipercepat agar ketergantungan terhadap impor semakin berkurang. Pemerintah juga didorong mempercepat implementasi devisa hasil ekspor sumber daya alam, memperbaiki logistik, serta memperkuat pasokan devisa nasional.

Baca Juga “Kawan Lama Group bicara pengembangan lini bisnis manufaktur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *