Diaspora Indonesia Berkarier di Boeing, Bukti Talenta RI Mampu Bersaing di Industri Dirgantara Global
Pasangan diaspora Indonesia, Alvary Ferdian dan Zee Abigail, menunjukkan bahwa talenta Indonesia mampu berkontribusi di industri dirgantara kelas dunia. Keduanya kini bekerja di Boeing, perusahaan manufaktur pesawat terbesar di dunia yang berpusat di Everett, Washington, Amerika Serikat. Perjalanan mereka menjadi contoh bahwa kemauan belajar, kemampuan beradaptasi, dan ketekunan dapat membuka peluang karier di perusahaan global.
Baca Juga “Dari manufaktur hingga pemasok Tier 1: Sekrup standar saja tidak cukup.“
Dalam wawancara bersama ANTARA di fasilitas Boeing Everett pada 3 Juli 2026, Alvary dan Zee menceritakan perjalanan masing-masing hingga berhasil bergabung dengan perusahaan yang memproduksi berbagai pesawat komersial. Meski memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda, keduanya sepakat bahwa proses belajar menjadi faktor utama yang mengantarkan mereka ke industri dirgantara.
Perjalanan Alvary Ferdian Menjadi Mekanik Pesawat Boeing
Alvary telah bekerja di Boeing selama hampir 11 tahun sebagai mekanik pesawat. Namun, kariernya tidak dimulai secara instan setelah tiba di Amerika Serikat.
Sebelum bergabung dengan Boeing, ia mengikuti pelatihan di Washington Aerospace Training and Research Center (WATR Center). Lembaga tersebut bekerja sama dengan Boeing untuk mempersiapkan tenaga kerja yang siap memasuki industri dirgantara melalui pelatihan teknis dan praktik langsung.
Selama sekitar tiga bulan, peserta mempelajari teori penerbangan, penggunaan peralatan kerja, prosedur keselamatan, hingga standar manufaktur yang diterapkan Boeing. Setelah menyelesaikan pelatihan, peserta memperoleh kesempatan melamar pekerjaan dengan bekal kompetensi yang sesuai kebutuhan perusahaan.
Alvary mengungkapkan bahwa pengalaman akademiknya di bidang penerbangan tetap membutuhkan penyesuaian ketika mulai bekerja. Menurutnya, proses merakit pesawat memiliki sistem kerja yang berbeda dibandingkan materi yang dipelajari di bangku pendidikan.
Ia menjelaskan bahwa setiap karyawan baru juga wajib mengikuti pelatihan internal perusahaan selama beberapa bulan. Program tersebut dirancang untuk memastikan seluruh pekerja memahami prosedur kerja, teknik pemasangan komponen, serta standar kualitas yang diterapkan Boeing sebelum terlibat di lini produksi.
Zee Abigail Membuktikan Latar Belakang Non-Dirgantara Bukan Hambatan
Berbeda dengan Alvary, Zee Abigail justru berasal dari disiplin ilmu yang tidak berkaitan langsung dengan penerbangan. Ia merupakan lulusan teknik lingkungan yang kemudian melanjutkan pendidikan magister psikologi.
Ketertarikannya terhadap industri dirgantara muncul setelah mengikuti tur ke fasilitas Boeing sesaat setelah tiba di Amerika Serikat. Pengalaman tersebut mendorongnya mengikuti pelatihan di WATR Center dengan mengambil spesialisasi kelistrikan atau electrical.
Selain memperoleh pelatihan teknis, Zee juga mendapatkan pendampingan menghadapi proses rekrutmen. Peserta dibimbing menyusun curriculum vitae sesuai standar Boeing sekaligus mengikuti simulasi wawancara kerja agar lebih siap memasuki dunia profesional.
Kini Zee bertugas di bagian interior pesawat. Ia menilai anggapan bahwa industri penerbangan hanya cocok bagi laki-laki sudah tidak lagi relevan. Menurutnya, perempuan juga memiliki peluang yang sama selama bersedia mempelajari keterampilan yang dibutuhkan.
Zee menambahkan bahwa ketelitian, kemampuan memperhatikan detail, dan konsistensi menjadi keunggulan yang sangat dibutuhkan dalam proses perakitan pesawat modern.
Saling Mendukung dalam Karier dan Pengembangan Kompetensi
Bekerja di perusahaan yang sama memberikan keuntungan bagi Alvary dan Zee. Keduanya dapat saling berbagi pengalaman, bertukar informasi mengenai peluang pengembangan karier, hingga membantu menyelesaikan tantangan pekerjaan berdasarkan pengalaman masing-masing.
Zee mengatakan mereka bahkan pernah dipercaya menjadi team lead di area kerja yang berbeda. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan kepemimpinan dapat berkembang seiring peningkatan kompetensi dan pengalaman di lingkungan kerja.
Bagi Alvary, bekerja di Boeing merupakan pencapaian yang dahulu tidak pernah ia bayangkan saat masih berada di Indonesia. Ia mengaku bangga dapat terlibat dalam proses pembuatan pesawat yang kemudian digunakan oleh maskapai penerbangan dari berbagai negara.
Kisah Diaspora yang Menginspirasi Generasi Muda Indonesia
Alvary dan Zee percaya sumber daya manusia Indonesia memiliki potensi besar untuk bersaing di perusahaan internasional. Menurut mereka, kemampuan beradaptasi, etos kerja yang baik, serta kemauan untuk terus belajar menjadi modal utama dalam membangun karier di industri global.
Keduanya berharap semakin banyak generasi muda Indonesia berani mengejar peluang di sektor dirgantara internasional. Zee juga mengajak perempuan untuk tidak ragu memasuki bidang yang selama ini identik dengan laki-laki, karena kompetensi dapat dibangun melalui proses belajar yang berkelanjutan.
Kisah Alvary Ferdian dan Zee Abigail menunjukkan bahwa peluang berkarier di industri dirgantara dunia terbuka bagi siapa saja yang memiliki tekad untuk mengembangkan kemampuan. Pengalaman mereka sekaligus menjadi bukti bahwa talenta Indonesia mampu memberikan kontribusi nyata di perusahaan teknologi dan manufaktur berskala global.