PLN Targetkan Serap 10 Juta Ton Biomassa pada 2030

PLN Targetkan Serap 10 Juta Ton Biomassa pada 2030 untuk Perkuat Energi Bersih

PT PLN (Persero) melalui PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menargetkan penyerapan biomassa mencapai 10 juta ton pada 2030. Langkah ini menjadi bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mempercepat pencapaian target net zero emissions (NZE) Indonesia pada 2060.

Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, mengatakan kebutuhan biomassa akan terus meningkat seiring dengan pengembangan program transisi energi. Target penyerapan tersebut naik signifikan dibandingkan rencana kebutuhan biomassa sebesar 3,65 juta ton pada 2026.

Menurut perhitungan PLN EPI, realisasi target 10 juta ton biomassa berpotensi menciptakan nilai ekonomi hampir Rp4 triliun dan mengurangi emisi gas rumah kaca hingga sekitar 11 juta ton karbon ekuivalen.

baca juga”Limbah 3.000 Pabrik Sawit RI Berpotensi Jadi Energi

Potensi Besar Biomassa Indonesia Masih Belum Maksimal Dimanfaatkan

Indonesia memiliki sumber biomassa yang sangat besar, terutama dari limbah sektor pertanian dan perkebunan. Potensi limbah agro nasional diperkirakan mencapai sekitar 80 juta ton setiap tahun.

Namun, pemanfaatan biomassa domestik masih tergolong rendah. Dari total potensi tersebut, sekitar 20 juta ton telah dimanfaatkan dan sebagian besar digunakan untuk kebutuhan industri serta pasar ekspor.

Pada 2025, PLN tercatat menyerap sekitar 2,35 juta ton biomassa untuk operasional pembangkit listrik. Sementara itu, ekspor biomassa mencapai sekitar 8,5 juta ton per tahun.

Hokkop menilai kondisi tersebut menunjukkan peluang besar bagi Indonesia untuk mengoptimalkan biomassa sebagai sumber energi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap energi berbasis fosil.

Cofiring Biomassa Jadi Strategi Menekan Emisi PLTU

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Johni Jonathan Numberi, menyampaikan bahwa biomassa akan menjadi salah satu komponen penting dalam bauran energi nasional menuju NZE 2060.

Menurutnya, kebijakan pemerintah melalui Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 menempatkan energi baru terbarukan sebagai fondasi sistem energi masa depan. Biomassa diproyeksikan tumbuh bersama energi surya dan gas bumi.

Ia menjelaskan bahwa sebagian besar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Indonesia masih memiliki masa operasi yang panjang. Karena itu, penerapan teknologi cofiring biomassa menjadi solusi untuk mengurangi emisi tanpa mengganggu keandalan pasokan listrik nasional.

PLN EPI Kembangkan CBG dan Biohidrogen sebagai Energi Masa Depan

Selain memperbesar penggunaan biomassa, PLN EPI juga mempercepat pengembangan compressed biomethane gas (CBG) yang berasal dari limbah cair kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME).

Indonesia memiliki hampir 3.000 pabrik kelapa sawit yang menghasilkan sekitar 130 juta metrik ton POME setiap tahun. Uji coba pemanfaatan CBG di salah satu pembangkit milik PT Nusantara Power menunjukkan hasil yang positif.

PLN EPI menargetkan CBG dapat menggantikan sekitar 10 persen kebutuhan energi pada pembangkit listrik tenaga gas, pembangkit listrik tenaga mesin gas, serta pembangkit listrik tenaga gas dan uap.

Di sisi lain, perusahaan juga mulai mengembangkan biohidrogen sebagai sumber energi jangka panjang. Potensi biomassa dan limbah organik yang melimpah membuka peluang Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri maupun permintaan ekspor global.

Pengembangan Bioenergi Berpotensi Ciptakan Ribuan Lapangan Kerja Hijau

Pengembangan ekosistem bioenergi tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Setiap pemanfaatan 100 ribu ton biomassa per tahun diperkirakan dapat melibatkan sekitar 500 petani dan 18 kelompok tani.

Program tersebut juga berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat hingga sekitar Rp450 ribu setiap bulan. Saat ini, PLN EPI telah mengembangkan fasilitas produksi biomassa di Tasikmalaya dan Ciamis melalui kolaborasi dengan petani, koperasi, BUMDes, UMKM, BUMD, serta mitra swasta.

Secara keseluruhan, pengembangan bioenergi hingga 2030 diperkirakan menghasilkan pendapatan sekitar Rp5,1 triliun, tambahan penerimaan negara sebesar Rp670 miliar, pemanfaatan limbah hingga 20 juta ton, serta menciptakan sekitar 150 ribu lapangan kerja hijau.

Meski memiliki potensi besar, pengembangan industri bioenergi masih menghadapi tantangan berupa kepastian harga dan penguatan rantai pasok. Untuk mengatasi hal tersebut, PLN EPI mengusulkan pembentukan Indonesian Bioenergy Index (IBI) sebagai standar acuan harga nasional.

Keberadaan indeks tersebut diharapkan mampu menciptakan pasar bioenergi yang lebih stabil, meningkatkan kepercayaan investor, dan mempercepat pertumbuhan industri energi terbarukan Indonesia pada masa mendatang.

baca juga”Menperin Siapkan Strategi Genjot Ekspor Manufaktur 30%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *