Apindo Nilai Motor Listrik Nasional Dapat Perkuat Manufaktur dan Dorong Pertumbuhan Ekonomi
Rencana Presiden Prabowo Subianto mengembangkan motor listrik nasional mendapat respons positif dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo). Organisasi tersebut menilai inisiatif itu berpotensi menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali sektor manufaktur sebagai penggerak utama perekonomian Indonesia.
Baca Juga “ProPak 2026 Dorong Automasi Manufaktur Pangan Domestik“
Analis Kebijakan Ekonomi Apindo, Ajib Hamdani, mengatakan pengembangan motor listrik nasional dapat mempercepat proses reindustrialisasi. Menurutnya, penguatan industri manufaktur menjadi faktor penting untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekaligus menciptakan lapangan kerja yang lebih berkualitas.
Kontribusi Manufaktur Dinilai Masih Perlu Ditingkatkan
Ajib menjelaskan kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia saat ini masih berada di kisaran 19,2 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa sektor industri belum kembali menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi tantangan karena target pertumbuhan ekonomi di atas enam persen dan penciptaan 19 juta lapangan kerja dalam lima tahun akan sulit dicapai apabila kontribusi manufaktur tetap berada di bawah 20 persen.
Menurut Ajib, sektor manufaktur memiliki kemampuan menciptakan nilai tambah yang tinggi sekaligus menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Karena itu, penguatan industri menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia.
Motor Listrik Nasional Berpotensi Dorong Reindustrialisasi
Apindo memandang program motor listrik nasional dapat menjadi titik awal kebangkitan industri manufaktur dalam negeri. Namun, keberhasilan program tersebut tidak hanya bergantung pada proses produksi, tetapi juga pada kemampuan membangun ekosistem industri yang terintegrasi.
Ajib menekankan bahwa motor listrik nasional harus memiliki kandungan lokal yang tinggi agar memberikan dampak ekonomi yang lebih luas. Menurutnya, produk tersebut sebaiknya menggunakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di atas 50 persen, termasuk pemanfaatan teknologi dan kekayaan intelektual yang dikembangkan di Indonesia.
Komponen seperti rangka, bodi, sistem kelistrikan, hingga berbagai perangkat pendukung lainnya diharapkan diproduksi oleh industri nasional sehingga rantai pasok dalam negeri dapat berkembang secara berkelanjutan.
Libatkan Industri Kecil dan Menengah dalam Rantai Pasok
Selain meningkatkan kandungan lokal, Apindo juga mendorong keterlibatan pelaku industri kecil dan menengah dalam pengembangan motor listrik nasional.
Ajib menilai koperasi, usaha kecil, serta produsen komponen otomotif perlu menjadi bagian dari rantai pasok industri kendaraan listrik. Dengan demikian, manfaat ekonomi tidak hanya dirasakan oleh perusahaan besar, tetapi juga menyebar ke berbagai sektor usaha di daerah.
Pendekatan tersebut dinilai mampu memperkuat struktur industri nasional sekaligus menciptakan peluang usaha baru bagi masyarakat.
Tiga Manfaat Strategis Motor Listrik Nasional
Apindo mengidentifikasi sedikitnya tiga manfaat utama apabila program motor listrik nasional dapat direalisasikan secara optimal.
Pertama, kendaraan listrik dapat dirancang sesuai kebutuhan masyarakat Indonesia sehingga tidak hanya berfungsi sebagai alat transportasi, tetapi juga mendukung aktivitas ekonomi produktif.
Kedua, penggunaan motor listrik berpotensi menurunkan emisi gas buang hingga lebih dari 95 persen dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah mempercepat transisi menuju ekonomi hijau dan mendukung target pengurangan emisi karbon.
Ketiga, peningkatan penggunaan motor listrik diperkirakan mampu mengurangi konsumsi bahan bakar minyak bersubsidi. Dengan jumlah sepeda motor di Indonesia yang telah mencapai lebih dari 145 juta unit, peralihan ke kendaraan listrik berpotensi memberikan efisiensi besar terhadap anggaran subsidi energi.
Belajar dari Pengalaman Vietnam
Sebagai perbandingan, Ajib menyoroti keberhasilan Vietnam dalam memperkuat sektor manufaktur melalui kebijakan industri yang mendukung investasi dan menciptakan iklim usaha yang lebih kompetitif.
Menurutnya, kontribusi manufaktur terhadap PDB Vietnam kini telah melampaui 23 persen, bahkan pada beberapa sektor mencapai sekitar 30 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebijakan industri yang tepat mampu meningkatkan daya saing nasional sekaligus mempercepat pertumbuhan ekonomi.
Implementasi Menjadi Faktor Penentu Keberhasilan
Meski optimistis terhadap rencana pemerintah, Apindo mengingatkan bahwa implementasi program akan menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilannya.
Ajib menegaskan motor listrik nasional harus benar-benar lahir dari pengembangan industri dalam negeri, bukan sekadar produk luar negeri yang dipasarkan dengan merek lokal. Penguatan riset, inovasi, dan kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, serta lembaga pendidikan dinilai menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan program tersebut.
Apabila seluruh aspek tersebut dapat diwujudkan, motor listrik nasional berpotensi menjadi katalis bagi reindustrialisasi Indonesia. Selain memperkuat sektor manufaktur, program ini juga dapat meningkatkan daya saing industri, memperluas kesempatan kerja, serta mendukung target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dalam beberapa tahun mendatang.
Baca Juga “Motor Listrik Nasional Bisa Jadi Angin Segar Sektor Manufaktur, Ini Syaratnya“