Pengusaha Sebut Industri Keramik Butuh Pasokan Gas Stabil

Industri Keramik Nasional Bergantung pada Stabilitas Pasokan dan Harga Gas Bumi

Industri keramik nasional menghadapi tantangan serius terkait pasokan dan harga gas bumi yang terus meningkat. Pelaku usaha menilai gas bumi merupakan faktor utama yang menentukan keberlangsungan produksi karena hingga saat ini belum tersedia sumber energi pengganti yang mampu mendukung proses manufaktur keramik secara optimal.

Di tengah upaya ekspansi industri dan meningkatnya kebutuhan pasar domestik, pelaku usaha meminta pemerintah menjamin ketersediaan pasokan gas serta menjaga harga tetap kompetitif. Langkah tersebut dinilai penting untuk mempertahankan daya saing industri keramik Indonesia di pasar regional maupun global.

baca juga”41 Ribu Rumah di Cirebon Segera Terhubung Jaringan Gas

ASAKI Minta Pemerintah Menjamin Pasokan Gas untuk Industri

Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) menegaskan bahwa kelancaran pasokan gas bumi menjadi kebutuhan mendasar bagi industri keramik nasional. Ketua Umum ASAKI, Edy Suyanto, menyebut gas bumi merupakan energi utama yang tidak dapat digantikan oleh sumber lain dalam proses produksi keramik.

Menurutnya, keberlangsungan industri sangat bergantung pada ketersediaan gas yang stabil. Gangguan pasokan berpotensi menghambat produksi, meningkatkan biaya operasional, dan menekan daya saing perusahaan di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.

Edy menjelaskan bahwa Indonesia saat ini memiliki industri keramik yang termasuk terbesar di dunia. Posisi tersebut perlu didukung oleh kebijakan energi yang mampu menjaga keberlanjutan investasi dan ekspansi sektor manufaktur.

Kenaikan Harga Regasifikasi LNG Picu Kekhawatiran Pelaku Industri

Selain masalah pasokan, industri keramik juga menghadapi ancaman kenaikan biaya energi akibat rencana penyesuaian harga regasifikasi LNG yang dijadwalkan berlaku mulai Juni 2026.

ASAKI mencatat harga regasifikasi LNG berpotensi meningkat dari sekitar 14,9 dolar AS menjadi kisaran 21 hingga 25 dolar AS per MMBTU. Kondisi tersebut diperkirakan akan mendorong kenaikan harga beli gas bagi industri secara signifikan.

Pada awal Januari 2026, rata-rata harga gas untuk industri keramik penerima program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) berada di level sekitar 9 dolar AS per MMBTU. Angka tersebut kemudian naik menjadi sekitar 11 dolar AS per MMBTU pada April 2026.

Jika kenaikan harga regasifikasi diberlakukan, rata-rata harga gas yang dibayar industri keramik diperkirakan dapat mencapai sekitar 15 dolar AS per MMBTU. Dalam waktu enam bulan, kenaikan tersebut berarti melampaui 60 persen.

Harga Gas Indonesia Dinilai Kurang Kompetitif di Kawasan ASEAN

Pelaku industri juga menyoroti perbedaan harga gas Indonesia dibandingkan negara-negara tetangga. Menurut ASAKI, harga gas industri di Indonesia masih relatif lebih tinggi dibandingkan beberapa negara ASEAN yang menjadi pesaing utama sektor manufaktur.

Malaysia disebut memiliki harga gas industri sekitar 9,5 dolar AS per MMBTU, sedangkan Thailand berada di kisaran 9,9 dolar AS per MMBTU. Selisih harga tersebut dinilai dapat memengaruhi daya saing produk manufaktur Indonesia, termasuk keramik, di pasar internasional.

Biaya energi yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan harga pokok produksi sehingga mengurangi kemampuan industri dalam bersaing dengan produk impor maupun produk dari negara lain.

Industri Pengguna Gas Kirim Surat Keberatan kepada Pemerintah

Sebagai respons terhadap rencana kenaikan harga gas, ASAKI telah mengirimkan surat keberatan kepada pihak distributor gas. Namun hingga saat ini, asosiasi mengaku belum menerima tanggapan resmi terkait permintaan tersebut.

Tidak hanya ASAKI, Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB) yang mewakili sekitar 20 sektor industri pengguna gas juga telah menyampaikan surat kepada pemerintah. Forum tersebut meminta perhatian khusus terhadap persoalan harga dan pasokan gas yang dinilai semakin membebani sektor manufaktur.

Ketua FIPGB, Yustinus Gunawan, menilai kenaikan harga gas dapat memberikan tekanan besar terhadap sektor riil. Menurutnya, gas bumi bukan hanya sumber energi, tetapi juga menjadi bahan baku penting yang mendukung berbagai aktivitas industri nasional.

Target Utilisasi Industri Keramik Direvisi Akibat Tantangan Energi

Tekanan biaya energi turut memengaruhi proyeksi kinerja industri keramik tahun ini. ASAKI merevisi target utilisasi industri yang sebelumnya dipatok mencapai 80 persen menjadi sekitar 73 hingga 75 persen.

Penyesuaian tersebut mencerminkan kehati-hatian pelaku usaha dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk kenaikan biaya produksi dan ketidakpastian pasokan energi.

Data Kementerian Perindustrian menunjukkan kapasitas produksi terpasang industri keramik nasional telah mencapai sekitar 650 juta meter persegi per tahun. Tingkat utilisasi produksi diperkirakan berada di kisaran 73 persen, sementara sektor ini mampu menyerap sekitar 150 ribu tenaga kerja secara langsung.

Stabilitas Energi Menjadi Kunci Masa Depan Industri Keramik

Industri keramik merupakan salah satu sektor manufaktur strategis yang memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Kapasitas produksi yang besar dan tingginya penyerapan tenaga kerja menjadikan sektor ini penting untuk terus dijaga pertumbuhannya.

Karena itu, pelaku usaha berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi yang mampu menjamin ketersediaan pasokan gas sekaligus menjaga harga tetap kompetitif. Kebijakan energi yang tepat dinilai akan menjadi faktor penentu bagi keberlanjutan investasi, peningkatan utilisasi produksi, serta daya saing industri keramik Indonesia di masa mendatang.

baca juga”Batu Bara Masih Jadi Sumber Energi Utama Pembangkit Listrik hingga 2035

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *