Industri Hijau Dorong Manufaktur RI Tembus Pasar Global

Industri Hijau

Industri Hijau Dorong Daya Saing Manufaktur Indonesia
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong sektor manufaktur Indonesia mempercepat transformasi menuju industri yang efisien dan berkelanjutan. Industri hijau kini tidak hanya dipandang sebagai upaya mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga sebagai strategi untuk memperkuat daya saing dan menarik investasi.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan efisiensi penggunaan sumber daya menjadi faktor penting dalam menghadapi persaingan industri global. Perusahaan perlu mengurangi penggunaan energi, bahan baku, dan air sekaligus menekan emisi serta limbah produksi.

“Transformasi menuju industri hijau merupakan sebuah keniscayaan,” kata Agus dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (28/8/2026).

Industri Hijau Jadi Strategi Bisnis
Menurut Agus, perubahan standar perdagangan global membuat aspek keberlanjutan semakin penting. Industri Indonesia tidak cukup hanya menawarkan produk dengan harga kompetitif dan kualitas baik.

Baca Juga “Eks Menkeu Akui Merosotnya Kontribusi Manufaktur ke Pertumbuhan Ekonomi

Perusahaan juga perlu membuktikan bahwa proses produksinya mampu memenuhi tuntutan lingkungan dan keberlanjutan. Kondisi tersebut membuka peluang bagi industri yang lebih cepat beradaptasi dengan standar produksi hijau.

“Kita ingin industri Indonesia tidak hanya kompetitif dari sisi harga dan kualitas, tetapi juga unggul dalam aspek keberlanjutan,” ujarnya.

Penerapan prinsip industri hijau juga dapat memberikan manfaat ekonomi. Penggunaan energi dan bahan baku secara efisien berpotensi mengurangi biaya produksi serta membuat perusahaan lebih tangguh menghadapi perubahan harga sumber daya.

Kemenperin Berikan Penghargaan Industri Hijau
Untuk mendorong penerapan praktik industri hijau, Kemenperin kembali menggelar Penghargaan Industri Hijau 2026. Program tersebut memberikan apresiasi kepada perusahaan yang menerapkan efisiensi sumber daya dalam proses produksinya.

Sejak pertama kali diselenggarakan pada 2010 hingga 2025, penghargaan tersebut telah diberikan kepada lebih dari 1.100 perusahaan dari berbagai sektor manufaktur.

Agus menilai capaian tersebut menunjukkan semakin banyak perusahaan yang mulai menjadikan efisiensi dan keberlanjutan sebagai bagian dari strategi bisnis.

“Kami mengapresiasi perusahaan-perusahaan yang telah menunjukkan komitmen dan melakukan investasi nyata untuk menjalankan proses produksi yang semakin efisien dan ramah lingkungan,” ujarnya.

Tiga Kategori Penghargaan Industri Hijau 2026
Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Emmy Suryandari menjelaskan bahwa penghargaan tahun ini memiliki tiga kategori.

Kinerja Terbaik Penerapan Industri Hijau, bagi perusahaan yang telah memiliki Sertifikat Industri Hijau.
Transformasi Menuju Industri Hijau, bagi perusahaan yang belum memiliki Standar Industri Hijau tetapi telah menjalankan efisiensi sumber daya.
Pemerintah Daerah dengan Implementasi Industri Hijau Terbaik, bagi pemerintah daerah yang aktif mendukung penerapan industri hijau.
Menurut Emmy, pembagian kategori tersebut bertujuan memperluas ekosistem industri hijau. Program ini juga memberikan ruang bagi perusahaan yang sedang berada dalam tahap awal transformasi.

Pendaftaran Dibuka hingga September 2026
Kemenperin membuka pendaftaran Penghargaan Industri Hijau 2026 mulai 23 Juli hingga 9 September 2026 melalui Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas). Penilaian dan penetapan pemenang dijadwalkan berlangsung pada September.

Emmy mengajak perusahaan yang memenuhi kriteria untuk berpartisipasi. Menurutnya, keterlibatan pelaku industri dapat menunjukkan perkembangan komitmen manufaktur nasional terhadap efisiensi sumber daya dan keberlanjutan.

Industri Hijau Jadi Modal Bersaing di Pasar Global
Transformasi industri hijau semakin relevan ketika pasar internasional memberikan perhatian lebih besar terhadap jejak lingkungan dalam rantai pasok. Perusahaan yang mampu mengintegrasikan aspek ekonomi, lingkungan, dan sosial memiliki peluang lebih besar menghadapi perubahan tuntutan pasar.

Bagi manufaktur Indonesia, efisiensi sumber daya juga dapat menjadi strategi menghadapi keterbatasan bahan baku, perubahan iklim, dan kenaikan biaya produksi.

Karena itu, industri hijau tidak lagi sekadar kewajiban lingkungan. Penerapannya dapat menjadi investasi jangka panjang untuk menciptakan manufaktur yang lebih efisien, tangguh, dan kompetitif di pasar global.

Baca Juga “Kemenperin Pacu TKDN Kendaraan Listrik Industri Manufaktur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *