Manufaktur RI Hadapi Tekanan Baru dari Biaya Logistik
Industri manufaktur Indonesia menghadapi tantangan baru di tengah ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga komoditas. Persoalan yang kini semakin dirasakan pelaku usaha bukan hanya ketersediaan bahan baku, tetapi juga tingginya biaya serta ketidakpastian logistik.
Kenaikan ongkos pengiriman membuat biaya distribusi meningkat. Kondisi tersebut turut memengaruhi harga barang impor yang masuk ke Indonesia, termasuk produk dari China.
Biaya Freight Mulai Menekan Industri
Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar Budiono mengatakan biaya freight saat ini menjadi salah satu kendala yang dihadapi industri. Menurutnya, kenaikan biaya pengiriman membuat harga sejumlah barang impor ikut meningkat.
Baca Juga “Kredit SME CIMB Niaga Tembus Rp27,01 Triliun, Sektor Perdagangan dan Manufaktur Jadi Penopang“
“Logistik, jadi sekarang freight-nya itu mahal-mahal semua.”
Fajar menjelaskan kondisi pengiriman yang belum sepenuhnya pasti membuat pelaku industri domestik mengambil sikap hati-hati. Mereka cenderung menunggu perkembangan biaya angkut, harga barang, dan ketersediaan pasokan sebelum mengambil keputusan bisnis.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa biaya logistik memiliki pengaruh langsung terhadap rantai pasok. Ketika pengiriman menjadi lebih mahal atau tidak pasti, perusahaan harus memperhitungkan kembali biaya produksi dan distribusi.
Ongkos Transportasi Jadi Beban Produksi
Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono menilai biaya transportasi dan angkutan logistik perlu mendapat perhatian pemerintah. Menurut dia, komponen tersebut memiliki porsi besar dalam struktur biaya usaha.
Bambang menyebut kontribusi biaya transportasi dan logistik terhadap biaya produksi berada di kisaran 30 hingga 40 persen. Besarnya porsi tersebut membuat efisiensi transportasi menjadi penting untuk menjaga daya saing industri.
Pemerintah dinilai perlu memastikan tarif angkutan tetap kompetitif. Kelancaran distribusi juga perlu diperkuat melalui infrastruktur dan konektivitas antardaerah.
Efisiensi Energi dan Birokrasi Jadi Solusi
Penurunan biaya logistik tidak cukup dilakukan melalui tarif transportasi. Industri juga membutuhkan biaya energi yang kompetitif, termasuk listrik dan gas.
Menurut Bambang, kombinasi logistik yang murah dan cepat dengan energi yang terjangkau dapat memperkuat daya saing manufaktur Indonesia. Penyederhanaan perizinan juga diperlukan untuk mengurangi beban ekonomi biaya tinggi.
Efisiensi tersebut penting bukan hanya bagi perusahaan yang sudah beroperasi. Struktur biaya yang kompetitif juga dapat meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai lokasi investasi manufaktur.
Industri Masih Menunggu Kepastian Pasar
Di tengah tingginya biaya pengiriman dan harga yang berfluktuasi, pelaku industri memilih bersikap wait and see. Ketidakpastian pasokan membuat perusahaan lebih berhati-hati dalam menentukan pembelian bahan maupun strategi produksi.
Kondisi ini dapat menjadi tantangan apabila berlangsung dalam waktu panjang. Industri membutuhkan kepastian agar dapat menyusun perencanaan produksi, mengelola persediaan, dan menentukan harga secara lebih akurat.
Karena itu, penguatan logistik perlu berjalan bersama dengan perbaikan infrastruktur, efisiensi energi, serta penyederhanaan regulasi. Langkah tersebut dapat membantu menekan biaya produksi sekaligus menjaga daya saing manufaktur nasional.
Daya Saing Manufaktur Bergantung pada Efisiensi
Masalah logistik kini menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan daya saing industri Indonesia. Ketika ongkos angkut meningkat, tekanan tidak hanya muncul pada produsen, tetapi juga pada distributor dan konsumen.
Pemerintah perlu menjaga agar biaya logistik tidak menjadi hambatan struktural bagi industri. Perbaikan konektivitas, kepastian distribusi, biaya energi, dan kemudahan perizinan dapat menjadi bagian dari solusi jangka panjang.
Dengan struktur biaya yang lebih efisien, manufaktur Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan produksi, menarik investasi, dan bersaing di pasar global.
Baca Juga “Topang Ekonomi Nasional, Kemenko Perekonomian Dorong Akselerasi Industri Manufaktur di Jawa Tengah“