Harga Minyak Dunia Turun 7 Persen di Tengah Harapan Perdamaian AS-Iran
Harga minyak dunia anjlok tajam pada perdagangan Rabu setelah pasar merespons positif peluang tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Optimisme tersebut memicu ekspektasi bahwa gangguan pasokan energi global akan segera mereda, terutama di kawasan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.
Mengutip laporan CNBC pada Kamis (7/5/2026), harga minyak mentah Brent turun hampir 8 persen dan ditutup di level USD 101,27 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat melemah sekitar 7 persen ke posisi USD 95,08 per barel.
Penurunan ini menjadi salah satu koreksi harian terbesar sejak konflik di Timur Tengah memicu lonjakan harga energi global beberapa bulan terakhir.
baca juga”SKK Migas Temukan 13 Sumur, Cadangan 1 Juta Barel“
AS dan Iran Dekati Kesepakatan Penghentian Konflik
Laporan Axios menyebut pemerintah AS dan Iran semakin dekat menuju memorandum kesepahaman berisi 14 poin untuk menghentikan perang sekaligus membuka jalur pembicaraan nuklir lanjutan.
Dua pejabat AS serta sejumlah sumber yang mengetahui proses negosiasi mengatakan Gedung Putih melihat peluang kesepakatan kini lebih besar dibanding sebelumnya. Jika tercapai, perjanjian tersebut dapat mengurangi risiko gangguan pasokan minyak global yang selama ini menekan pasar energi.
Meski demikian, Presiden AS Donald Trump belum sepenuhnya yakin Iran akan menerima proposal tersebut. Trump menyebut asumsi bahwa Teheran akan menyetujui seluruh poin kesepakatan masih terlalu dini.
Trump juga memperingatkan bahwa operasi militer dapat kembali dilakukan apabila Iran menolak proposal damai yang diajukan Washington.
Respons Iran Ditunggu dalam 48 Jam
Pemerintah AS kini menunggu jawaban resmi Iran terkait sejumlah poin penting dalam proposal perdamaian itu. Menurut sumber Axios, respons tersebut diperkirakan akan diberikan dalam 48 jam ke depan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan pemerintah masih mempelajari proposal dari Washington sebelum mengambil keputusan final. Sebelumnya, Iran menegaskan hanya akan menerima kesepakatan yang dinilai adil dan tidak merugikan kepentingan nasional mereka.
Situasi ini membuat pasar energi global bergerak sangat sensitif. Investor menilai dua hari ke depan menjadi periode penting yang dapat menentukan arah harga minyak dalam jangka pendek.
Jika kesepakatan tercapai, pasar memperkirakan distribusi minyak melalui Selat Hormuz akan kembali normal secara bertahap. Namun, kegagalan negosiasi berpotensi memicu lonjakan harga energi baru.
Selat Hormuz Jadi Faktor Penentu Pasar Energi Global
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati kawasan tersebut setiap hari.
Pemerintahan Trump sebelumnya menghentikan sementara operasi militer “Project Freedom” yang bertujuan mengawal kapal dagang di Selat Hormuz. Keputusan itu diambil setelah muncul perkembangan positif dalam negosiasi dengan Iran.
Washington juga mengungkap sekitar 23 ribu pelaut dari kapal milik 87 negara sempat terjebak di Teluk Persia akibat penutupan jalur pelayaran oleh Iran selama konflik berlangsung.
Gangguan distribusi tersebut menyebabkan biaya logistik meningkat dan memperburuk tekanan terhadap rantai pasok global.
Pasar Minyak Dinilai Masih Sangat Rentan
Kepala Strategi Komoditas ING, Warren Patterson, mengatakan normalisasi arus minyak melalui Selat Hormuz sangat penting bagi stabilitas pasar global.
Menurutnya, sekitar 13 juta barel pasokan minyak per hari yang terganggu sejauh ini masih tertutupi oleh cadangan persediaan. Namun, stok tersebut terus menurun dalam beberapa pekan terakhir.
Patterson menilai kondisi itu membuat pasar minyak semakin rapuh dan rentan terhadap gejolak harga mendadak. Ia juga menyebut volatilitas perdagangan minyak kemungkinan tetap tinggi hingga ada kepastian politik antara AS dan Iran.
Pandangan serupa disampaikan Co-Head Fixed Income Azimut Group, Nicolo Bocchin. Ia mengatakan lonjakan harga energi sebelumnya mulai menekan permintaan global dan meningkatkan risiko perlambatan ekonomi di sejumlah negara.
Menurut Bocchin, meski Selat Hormuz nantinya kembali dibuka penuh, proses normalisasi pengiriman minyak dan perdagangan internasional tidak akan berlangsung cepat.
Prospek Harga Minyak Masih Bergantung pada Negosiasi
Pergerakan harga minyak dunia dalam beberapa hari ke depan diperkirakan masih dipengaruhi perkembangan diplomasi antara Washington dan Teheran. Pasar kini menunggu kepastian apakah kedua negara benar-benar dapat mencapai kesepakatan damai.
Jika negosiasi berhasil, tekanan terhadap harga minyak kemungkinan mereda seiring pulihnya distribusi energi global. Namun, ketidakpastian politik dan ancaman konflik baru tetap menjadi risiko utama yang dapat kembali mengguncang pasar energi internasional.
baca juga”Harga Emas Kembali Cerah, Simak 2 Pemicunya“