Infrastruktur SAF dan Biosolar B50 Disiapkan Pertamina

Pertamina Percepat Infrastruktur SAF dan Biosolar B50 untuk Dukung Transisi Energi

PT Pertamina (Persero) mempercepat kesiapan infrastruktur guna mendukung implementasi Sustainable Aviation Fuel (SAF) dan distribusi biosolar B50. Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam memperkuat ketahanan energi nasional, mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar, sekaligus mendukung target transisi menuju energi yang lebih bersih.

Komisaris Utama Pertamina, Mochamad Iriawan, mengatakan kesiapan fasilitas energi menjadi faktor penting agar implementasi bahan bakar ramah lingkungan dapat berjalan lancar. Menurutnya, penguatan infrastruktur tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia dan sistem operasional yang mendukung distribusi energi secara berkelanjutan.

baca juga”Mini LNG Plant Tuban Siap Pasok Energi Jawa hingga Sulawesi

Kesiapan Terminal Pertamina Dukung Implementasi SAF dan Biosolar B50

Dalam kunjungannya ke sejumlah fasilitas operasional di Jawa Timur, Iriawan menilai Aviation Fuel Terminal (AFT) Juanda telah siap mendukung penyaluran Sustainable Aviation Fuel bagi sektor penerbangan. Kehadiran infrastruktur tersebut diharapkan mampu mempercepat penggunaan avtur rendah emisi sekaligus menjaga keandalan pasokan energi di bandara.

“Kesiapan infrastruktur dan SDM untuk implementasi SAF sejalan dengan upaya memperkuat kemandirian energi nasional dan mengurangi ketergantungan energi impor,” ujar Iriawan kepada wartawan, Selasa (30/6/2026).

Selain meninjau AFT Juanda, Iriawan juga mengunjungi Integrated Terminal Surabaya. Terminal tersebut dinilai telah memiliki kesiapan operasional untuk mendukung distribusi biosolar B50 menjelang pemberlakuan program secara nasional.

Ia mendorong Integrated Terminal Surabaya menjadi proyek percontohan pengembangan energi hijau di lingkungan Pertamina. Menurutnya, terminal modern tersebut dapat menjadi model pengelolaan energi yang lebih efisien sekaligus mendukung agenda dekarbonisasi perusahaan.

Di sisi lain, Pertamina terus memperkuat digitalisasi operasional melalui Pertamina Integrated Command Center (PICC) dan Terminal Automation System. Pemanfaatan teknologi tersebut ditujukan untuk meningkatkan efisiensi distribusi, memantau kondisi infrastruktur secara real time, serta memperkuat ketahanan pasokan energi nasional.

Iriawan juga mengingatkan pentingnya menjaga keselamatan kerja dan keandalan fasilitas energi di tengah percepatan pengembangan bahan bakar rendah karbon.

“Kedaulatan energi yang sejati adalah ketika kita mampu berdiri di atas kaki sendiri, mengolah apa yang dikaruniai Tuhan di bumi Nusantara ini menjadi energi bersih bagi masa depan bangsa. Kita tidak boleh menjadi bangsa yang menggantungkan nasibnya pada belas kasihan pasar global,” katanya.

Mengenal Biosolar B50 yang Mulai Berlaku 1 Juli 2026

Pemerintah menjadwalkan peluncuran mandatori biodiesel B50 pada 1 Juli 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional. Program tersebut diumumkan Presiden Prabowo Subianto dan menjadikan Indonesia sebagai negara pertama yang menerapkan biodiesel dengan campuran 50 persen bahan bakar nabati berbasis minyak sawit untuk berbagai moda transportasi.

B50 merupakan bahan bakar diesel yang terdiri atas 50 persen solar dan 50 persen Fatty Acid Methyl Ester (FAME). FAME diproduksi dari minyak nabati, terutama minyak kelapa sawit, sehingga dapat mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.

Program ini melanjutkan kebijakan mandatori biodiesel sebelumnya, yakni B35 dan B40. Pemerintah berharap peningkatan kandungan biodiesel mampu menekan impor solar, meningkatkan konsumsi energi terbarukan, serta memperkuat industri sawit nasional.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menjelaskan pengembangan B50 merupakan hasil riset biodiesel yang telah berlangsung sekitar 15 tahun.

“Tentu saja program B50 ini sudah mempunyai sejarah yang panjang sejak 15 tahun yang lalu, dan kali ini kita membuktikan di dunia bahwa B50 itu hanya ada di Indonesia. Kita saat ini capaiannya sudah nomor 1 di dunia,” ujar Eniya.

Menurutnya, belum ada negara lain yang menerapkan biodiesel B50 untuk sektor transportasi. Kondisi tersebut membuat Indonesia harus menyusun sendiri standar teknis dan prosedur implementasinya.

“Bahkan tidak ada lagi rujukan-rujukan teknis yang bisa kita akses. Jadi tidak ada contohnya. Ini yang membuat kebanggaan bagi kita sendiri,” katanya.

Hasil Uji Coba B50 Dinilai Melampaui Standar Pabrikan

Sebelum diterapkan secara nasional, pemerintah telah menguji B50 sejak Desember 2025 pada berbagai jenis kendaraan dan alat berat. Pengujian dilakukan terhadap mobil penumpang, truk, alat berat pertambangan, kapal, kereta api, hingga mesin pertanian.

Eniya menyebut hasil pengujian menunjukkan performa biodiesel B50 berada di atas standar yang direkomendasikan sejumlah produsen kendaraan.

“Di otomotif kita sudah lihat kemarin dari hasil target 50.000 km dan ada juga 40.000 km. Di situ semua pengujian di atas saran dari pabrikan. Jadi, misalnya filter harus diganti di 10.000. Nah, ternyata kemarin 30.000 aja belum ganti,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan kualitas FAME yang digunakan pada B50 telah ditingkatkan, terutama melalui penurunan kadar air sehingga kualitas bahan bakar menjadi lebih baik dibandingkan implementasi B40.

Pengujian turut dilakukan di kawasan bersuhu rendah, termasuk di Gunung Bromo, Jawa Timur. Berdasarkan hasil uji tersebut, mesin kendaraan tetap dapat dinyalakan dengan cepat meski berada pada kondisi temperatur rendah.

“Nah kemarin cold start engine saya di Bromo itu sudah bagus. Kurang dari 1 detik, bahkan 0,8 detik,” kata Eniya.

Implementasi B50 Diharapkan Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Keberhasilan serangkaian pengujian menjadi dasar pemerintah memberlakukan mandatori B50 mulai 1 Juli 2026. Pemerintah menilai keberhasilan penggunaan biodiesel pada kendaraan bermesin putaran tinggi menjadi indikator bahwa penerapan pada sektor lain akan lebih mudah dilakukan.

Selain memperluas penggunaan energi terbarukan, implementasi B50 diharapkan dapat mengurangi impor solar, meningkatkan nilai tambah komoditas sawit dalam negeri, dan memperkuat kemandirian energi nasional. Dukungan infrastruktur yang disiapkan Pertamina juga menjadi faktor penting agar distribusi bahan bakar baru tersebut berjalan aman, efisien, dan berkelanjutan di seluruh Indonesia.

baca juga”Hoaks Pertamax Terkini, Isu Seputar Harga Jadi Sasaran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *