BPS Catat Indeks Kondisi Bisnis dan Prospek Manufaktur Naik ke 52,31 pada Kuartal II 2026
Peningkatan Pesanan dan Produksi Dorong Industri Manufaktur Tetap Berada di Jalur Ekspansi
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kinerja sektor industri manufaktur Indonesia masih menunjukkan tren positif pada kuartal II 2026. Hal tersebut tercermin dari Indeks Kondisi Bisnis dan Prospek Manufaktur (IKBM) yang mencapai 52,31 atau meningkat dibandingkan kuartal I 2026 sebesar 51,37. Capaian tersebut menandakan aktivitas industri masih berada pada fase ekspansi karena indeks berada di atas ambang batas 50.
Peningkatan IKBM menunjukkan optimisme pelaku industri terhadap kondisi bisnis nasional masih terjaga. Meskipun sejumlah tantangan masih dihadapi, terutama pada aspek ketenagakerjaan dan distribusi, aktivitas produksi dan permintaan di sektor manufaktur tetap tumbuh selama periode April hingga Juni 2026.
Baca Juga “BPS Catat Manufaktur Kuartal II/2026 Ekspansif, Tapi Tenaga Kerja Susut“
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud, menjelaskan bahwa mayoritas komponen penyusun IKBM mengalami peningkatan dibandingkan kuartal sebelumnya. Kenaikan tersebut mencerminkan membaiknya aktivitas operasional perusahaan manufaktur di berbagai subsektor.
Komponen pesanan menjadi salah satu pendorong utama kenaikan indeks. Pada kuartal II 2026, nilai komponen pesanan meningkat menjadi 53,78 dari sebelumnya 52,69 pada kuartal I. Kenaikan ini menunjukkan permintaan terhadap produk manufaktur masih tumbuh dan menjadi sinyal positif bagi dunia usaha.
Selain pesanan, aktivitas produksi juga mencatatkan peningkatan yang cukup signifikan. Nilai komponen produksi naik dari 51,78 pada kuartal I menjadi 54,21 pada kuartal II 2026. Peningkatan ini mengindikasikan perusahaan masih mampu menjaga kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar yang terus berkembang.
Komponen stok atau persediaan barang juga berada pada zona ekspansi. Nilainya meningkat dari 51,54 menjadi 51,86. Kenaikan tersebut menunjukkan perusahaan masih memiliki tingkat persediaan yang memadai untuk mendukung kelancaran distribusi sekaligus mengantisipasi permintaan pasar pada periode berikutnya.
“Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas produksi, permintaan, dan persediaan pada sektor industri manufaktur masih terus mengalami pertumbuhan,” ujar M. Edy Mahmud dalam konferensi pers, Rabu (5/8/2026).
Meski demikian, BPS mencatat belum seluruh indikator menunjukkan perbaikan. Dua komponen penyusun IKBM masih berada pada fase kontraksi, yakni tenaga kerja dan waktu pengiriman barang.
Komponen tenaga kerja turun ke level 49,92 pada kuartal II 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 50,57. Penurunan ini mengindikasikan pertumbuhan penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur masih menghadapi tekanan sehingga belum sepenuhnya mengikuti peningkatan aktivitas produksi.
Sementara itu, komponen waktu kirim berada di level 49,71. Nilai di bawah angka 50 menunjukkan proses distribusi dan pengiriman barang masih menghadapi berbagai tantangan. Faktor logistik, rantai pasok, hingga efisiensi distribusi menjadi aspek yang perlu mendapat perhatian agar kinerja industri semakin optimal.
Secara umum, kondisi tersebut menggambarkan bahwa industri manufaktur Indonesia masih memiliki daya tahan yang cukup baik di tengah dinamika ekonomi. Peningkatan pesanan dan produksi menjadi indikator bahwa permintaan pasar domestik maupun aktivitas bisnis masih bergerak positif.
IKBM merupakan salah satu indikator yang digunakan BPS untuk menggambarkan kondisi aktual sekaligus prospek bisnis sektor manufaktur. Nilai indeks di atas 50 menunjukkan dunia usaha berada pada fase ekspansi atau mengalami pertumbuhan, sedangkan angka di bawah 50 mengindikasikan kontraksi atau perlambatan aktivitas bisnis.
Bagi pelaku usaha, peningkatan IKBM menjadi sinyal bahwa iklim bisnis manufaktur masih kondusif untuk menjaga keberlangsungan produksi dan investasi. Di sisi lain, pemerintah juga dapat memanfaatkan data tersebut sebagai dasar dalam menyusun kebijakan yang mendukung pertumbuhan industri nasional, termasuk peningkatan produktivitas, penguatan rantai pasok, serta penciptaan lapangan kerja.
Ke depan, keberlanjutan tren ekspansi industri manufaktur akan sangat dipengaruhi oleh stabilitas permintaan, efisiensi logistik, ketersediaan tenaga kerja, serta kondisi ekonomi global. Apabila berbagai tantangan tersebut dapat diatasi, sektor manufaktur berpotensi terus menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026.
Baca Juga “Iklim Bisnis dan Prospek Manufaktur Masih Ekspansif di Kuartal II-2026, BPS Beberkan Datanya