Manufaktur dan Pertanian Jadi Pilar Utama Pertumbuhan Ekonomi RI yang Resilien
Andry Asmoro Tekankan Percepatan Sektor untuk Stabilitas dan Lapangan Kerja
Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menekankan percepatan sektor manufaktur dan pertanian sebagai kunci pertumbuhan ekonomi Indonesia yang resilien dan berkelanjutan. Pernyataan ini disampaikan pada Rabu malam di Jakarta, menyoroti peran kedua sektor dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional menghadapi ketidakpastian global.
Dalam tiga tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan sektor manufaktur tercatat 4,8 persen, sementara pertanian hanya 2,4 persen. Asmoro menilai angka ini masih belum optimal, terutama sektor pertanian yang memiliki keterkaitan erat dengan program ketahanan pangan pemerintah. “Pertumbuhan pertanian masih tertinggal dan perlu didorong agar mampu mendukung ketahanan pangan nasional,” ujar Asmoro.
Baca Juga “Manufaktur Global Makin Tertekan, Sri Mulyani Waspadai Hal Ini“
Asmoro menambahkan, jika pertumbuhan sektor pertanian bisa mencapai 4 persen, potensi pertumbuhan ekonomi nasional dapat menembus lebih dari 5,5 persen. “Kedua sektor ini tidak hanya penting untuk PDB, tetapi juga untuk menciptakan lapangan kerja formal,” katanya. Saat ini, mayoritas pekerja pertanian masih bekerja di sektor informal, sehingga pengelolaan yang tepat dapat meningkatkan kualitas lapangan kerja sekaligus pendapatan masyarakat.
Sektor Manufaktur dan Pertanian Dorong Devisa dan Ekspor
Selain kontribusi terhadap pertumbuhan dan lapangan kerja, percepatan manufaktur dan pertanian juga meningkatkan pasokan devisa negara. Komoditas ekspor unggulan seperti kopi, kakao, kelapa, cengkeh, dan pala menjadi andalan Indonesia di pasar global. Menurut Asmoro, ekspor ini tidak hanya menambah devisa, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia di perdagangan internasional.
“Pertumbuhan manufaktur dan pertanian yang stabil membuat ekonomi lebih tangguh menghadapi guncangan eksternal. Produk ekspor unggulan memberikan kontribusi nyata terhadap neraca perdagangan dan pertumbuhan jangka panjang,” kata Asmoro. Ia menekankan pentingnya inovasi dan teknologi untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing kedua sektor ini.
Pentingnya Pembangunan Wilayah yang Merata
Asmoro juga menyoroti ketimpangan kontribusi wilayah terhadap ekonomi nasional. Selama 40 tahun terakhir, kontribusi produk domestik regional bruto (PDRB) Sumatra dan Kalimantan menurun, meski kedua wilayah ini merupakan penghasil komoditas utama. Sementara itu, Pulau Jawa terus mendominasi PDRB nasional.
“Kondisi ini menunjukkan perlunya pembangunan yang lebih merata. Sumatra dan Kalimantan harus didorong agar mampu meningkatkan produksi dan nilai tambah komoditas,” jelas Asmoro. Strategi pembangunan regional yang lebih seimbang diharapkan dapat mengurangi ketimpangan ekonomi dan memperkuat resiliensi nasional terhadap guncangan eksternal.
Menurut Asmoro, pengembangan infrastruktur, akses ke teknologi pertanian modern, serta pendampingan usaha mikro dan kecil di wilayah luar Jawa menjadi faktor kunci dalam pemerataan pembangunan. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi tidak hanya tinggi secara nasional, tetapi juga inklusif di berbagai wilayah.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2026 dan Tantangan Kuartal III
Mengenai proyeksi ekonomi 2026, Asmoro menyebut tantangan utama terdapat pada kuartal II dan III, terutama kuartal III yang biasanya minim sentimen musiman. Sementara kuartal I diperkirakan lebih tinggi dibanding kuartal IV 2025, didorong faktor musiman Ramadhan dan Lebaran, efek low base, serta akselerasi belanja pemerintah.
“Pertumbuhan kuartal I terlihat positif karena konsumsi rumah tangga meningkat seiring musim perayaan, ditambah akselerasi belanja pemerintah,” kata Asmoro. Ia menambahkan, menjaga momentum pertumbuhan sepanjang tahun memerlukan koordinasi antara pemerintah, sektor swasta, dan percepatan sektor strategis seperti manufaktur dan pertanian.
Asmoro juga menyoroti pentingnya inovasi dalam sektor manufaktur untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi energi, dan nilai tambah produk. Dalam sektor pertanian, penerapan teknologi digital, modernisasi alat produksi, dan penguatan rantai pasok menjadi kunci untuk meningkatkan hasil dan kualitas produk ekspor.
Dampak Lapangan Kerja dan Peningkatan Pendapatan
Percepatan manufaktur dan pertanian juga memiliki efek langsung pada penyerapan tenaga kerja. Dengan transformasi sektor pertanian menuju formalisasi pekerjaan, masyarakat dapat memperoleh penghasilan lebih stabil dan akses terhadap jaminan sosial. Di sisi manufaktur, peningkatan kapasitas produksi membuka peluang pekerjaan di industri pengolahan, logistik, dan distribusi.
Asmoro menekankan, investasi pada kedua sektor ini tidak hanya meningkatkan PDB, tetapi juga memperkuat ketahanan sosial dan ekonomi. “Ekonomi yang kuat dan merata dapat menghadirkan pertumbuhan yang berkelanjutan dan mengurangi kerentanan terhadap guncangan global,” ujarnya.
Kesimpulan: Ekonomi Resilien Memerlukan Strategi Terpadu
Secara keseluruhan, percepatan sektor manufaktur dan pertanian menjadi fondasi utama untuk menciptakan ekonomi Indonesia yang resilien. Dengan penguatan inovasi, pemerataan pembangunan wilayah, dan strategi penyerapan tenaga kerja yang tepat, Indonesia memiliki peluang mencetak pertumbuhan berkelanjutan di atas lima persen.
Asmoro menegaskan bahwa strategi terpadu antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat akan memastikan ekonomi Indonesia tetap tangguh menghadapi volatilitas global, sekaligus mendorong pemerataan kesejahteraan di seluruh wilayah. Resiliensi ekonomi bukan sekadar angka pertumbuhan, tetapi kemampuan menghadapi tantangan sambil menciptakan peluang baru bagi masyarakat.
Baca Juga “Mie Sedaap Batal PHK Massal, Buruh Ungkap Manajemen Minta Maaf“