Harga Minyak Dunia Anjlok Usai Capai Rekor Tertinggi

Harga Minyak Dunia Turun Tajam Setelah Sentuh Rekor Tertinggi Empat Tahun

Harga minyak dunia berbalik melemah setelah sebelumnya mencetak lonjakan signifikan ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Koreksi ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran, serta ketidakpastian pasokan energi global.

Pada perdagangan Kamis waktu setempat atau Jumat di Jakarta, harga minyak mentah jenis Brent turun lebih dari 3 persen dan ditutup di level USD 114,01 per barel. Sebelumnya, harga sempat menyentuh USD 126 per barel, menjadi salah satu level tertinggi sejak periode konflik besar beberapa tahun terakhir.

baca juga”Indofood Sukses Makmur Raih Penghargaan Industri Pangan

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami penurunan lebih dari 1 persen dan ditutup pada USD 105,07 per barel.

Ketegangan AS-Iran Picu Volatilitas Harga Energi

Penurunan harga minyak terjadi setelah laporan mengenai langkah militer potensial yang tengah dipertimbangkan oleh pemerintah Donald Trump. Laporan menyebutkan bahwa Komando Pusat AS akan mempresentasikan opsi aksi terhadap Iran di tengah konflik yang memanas.

Situasi ini memperkuat ketidakpastian pasar energi. Sebelumnya, AS dilaporkan menolak proposal Iran terkait pembukaan kembali jalur pelayaran strategis di kawasan Teluk.

Kebijakan tersebut mengindikasikan bahwa blokade di jalur energi utama masih akan berlangsung hingga tercapai kesepakatan nuklir yang lebih luas. Kondisi ini menambah tekanan pada distribusi minyak global.

Gangguan Pasokan di Selat Hormuz Persempit Distribusi

Salah satu faktor utama yang memengaruhi harga minyak adalah terganggunya distribusi melalui Selat Hormuz. Jalur ini merupakan rute penting bagi pengiriman minyak dari kawasan Timur Tengah ke pasar global.

Analis memperkirakan bahwa volume ekspor melalui Selat Hormuz turun drastis hingga hanya sekitar 4 persen dari kapasitas normal. Penurunan ini terjadi akibat konflik yang berlangsung sejak akhir Februari 2026.

Gangguan tersebut menyebabkan pasokan minyak global semakin terbatas. Kondisi ini sebelumnya mendorong harga melonjak tajam dalam beberapa hari terakhir.

Reli Harga Minyak Dipicu Konflik Timur Tengah

Sejak konflik yang melibatkan AS dan sekutunya dengan Iran dimulai pada 28 Februari 2026, harga minyak Brent dan WTI tercatat meningkat sekitar 60 persen. Lonjakan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi krisis energi yang lebih luas.

Namun, reli tersebut tidak berlangsung stabil. Koreksi harga yang terjadi menunjukkan bahwa pasar mulai menyesuaikan ekspektasi terhadap dinamika pasokan dan permintaan.

Kepala Strategi Komoditas ING, Warren Patterson, menyebut bahwa pasar minyak kini bergerak dari fase optimisme menuju realitas gangguan pasokan yang nyata.

Ia menilai bahwa semakin lama gangguan berlangsung, semakin besar tekanan terhadap persediaan global. Hal ini berpotensi mendorong harga tetap tinggi dalam jangka menengah.

Proyeksi Pasokan dan Respons Pasar Global

Lembaga keuangan global seperti Goldman Sachs memperingatkan bahwa keterbatasan ekspor Iran dan kapasitas penyimpanan dapat memperburuk kondisi pasokan jika blokade berlanjut.

Di sisi lain, peningkatan produksi dari Uni Emirat Arab diperkirakan tidak akan langsung menutup kekurangan pasokan. Proses peningkatan produksi membutuhkan waktu dan investasi tambahan.

Pasar juga mempertimbangkan faktor permintaan global. Harga yang terlalu tinggi dapat menekan konsumsi energi, terutama di negara-negara berkembang yang sensitif terhadap kenaikan biaya energi.

Penutup: Volatilitas Harga Diperkirakan Berlanjut

Pergerakan harga minyak dunia saat ini menunjukkan tingkat volatilitas yang tinggi akibat faktor geopolitik dan gangguan distribusi. Penurunan harga setelah lonjakan tajam mencerminkan respons pasar terhadap informasi baru dan perubahan ekspektasi.

Ke depan, arah harga minyak akan sangat bergantung pada perkembangan hubungan antara Amerika Serikat dan Iran, serta kondisi jalur distribusi utama seperti Selat Hormuz. Stabilitas geopolitik menjadi kunci dalam menentukan keseimbangan pasar energi global.

baca juga”Wajah Donald Trump Akan Muncul di Paspor AS Picu Kritik, Dinilai Bukan Patriotisme

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *