Adopsi AI dan Sistem Terpisah Jadi Tantangan Transformasi Industri Manufaktur Indonesia
Transformasi digital di sektor manufaktur Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait integrasi sistem operasional dan kesiapan infrastruktur teknologi. Di tengah meningkatnya penggunaan artificial intelligence (AI) dan otomatisasi, banyak perusahaan dinilai belum memiliki fondasi digital yang kuat untuk mendukung perubahan tersebut.
Baca Juga “VinFast Vietnam jual pabrik dan alihkan utang US$7 miliar, mengapa?“
Kondisi ini membuat proses transformasi industri berjalan tidak optimal. Sejumlah perusahaan mulai mengadopsi teknologi berbasis AI dan predictive analytics, tetapi masih menghadapi kendala dalam menghubungkan data, proses bisnis, dan operasional secara menyeluruh.
Vice President Asia Epicor, Vincent Tang, mengatakan banyak pelaku industri terlalu fokus membicarakan AI tanpa memperhatikan kesiapan sistem dasar perusahaan.
“Saat ini banyak perusahaan langsung berbicara mengenai AI dan otomatisasi, padahal fondasi dasarnya belum tentu siap.Yang sering terlupakan adalah bagaimana perusahaan memastikan data, proses bisnis, dan operasional mereka sudah terhubung dengan baik,” kata Vincent, Sabtu (23/5/2026).
Sistem Operasional yang Terpisah Hambat Efisiensi Industri
Vincent menjelaskan masih banyak perusahaan manufaktur menggunakan sistem operasional yang berjalan sendiri-sendiri. Kondisi tersebut membuat aliran data antar divisi menjadi lambat dan sulit terintegrasi.
Ketika data penjualan, produksi, inventori, hingga distribusi tidak saling terhubung, perusahaan akan kesulitan memperoleh visibilitas operasional secara real-time. Padahal, kecepatan pengambilan keputusan kini menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing industri.
Menurut Vincent, perubahan rantai pasok global dan meningkatnya kompetisi membuat perusahaan harus bergerak lebih cepat dan adaptif. Tanpa sistem yang terintegrasi, perusahaan berisiko mengalami keterlambatan produksi, ketidakefisienan operasional, hingga kesalahan perencanaan bisnis.
Ia menilai tantangan utama transformasi digital bukan hanya soal investasi teknologi baru, tetapi juga kemampuan perusahaan membangun integrasi data dan proses bisnis secara menyeluruh.
ERP Modern Dinilai Jadi Fondasi Transformasi Digital
Dalam proses transformasi industri, Vincent menilai sistem enterprise resource planning atau ERP modern memiliki peran penting. ERP kini tidak lagi sekadar digunakan untuk kebutuhan administrasi dan pencatatan keuangan perusahaan.
Sistem ERP modern berkembang menjadi pusat integrasi operasional yang menghubungkan berbagai fungsi bisnis dalam satu platform digital. Melalui sistem tersebut, perusahaan dapat mengelola penjualan, produksi, inventori, rantai pasok, hingga distribusi secara lebih efisien.
Integrasi operasional dinilai mampu meningkatkan visibilitas bisnis sekaligus membantu perusahaan mengambil keputusan berbasis data secara lebih cepat dan akurat.
Selain itu, ERP modern juga mendukung implementasi teknologi lain seperti AI, internet of things (IoT), dan otomatisasi mesin produksi. Dengan sistem yang saling terhubung, perusahaan dapat memanfaatkan data operasional untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
Adopsi AI di Industri Masih Membutuhkan Kesiapan Infrastruktur
Penggunaan AI dalam industri manufaktur terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Teknologi ini banyak dimanfaatkan untuk predictive maintenance, analisis permintaan pasar, pengendalian kualitas produk, hingga otomatisasi proses produksi.
Meski demikian, implementasi AI membutuhkan kualitas data yang baik dan sistem digital yang terintegrasi. Tanpa fondasi tersebut, AI dinilai sulit memberikan hasil optimal bagi perusahaan.
Vincent menegaskan AI bukan solusi instan yang dapat langsung meningkatkan efisiensi industri. Perusahaan tetap harus membangun infrastruktur digital yang kuat sebelum menerapkan teknologi berbasis kecerdasan buatan secara luas.
Selain kesiapan sistem, tantangan lain juga datang dari kebutuhan sumber daya manusia yang mampu mengoperasikan teknologi digital. Banyak perusahaan masih menghadapi keterbatasan tenaga kerja dengan kemampuan analisis data dan pengelolaan sistem digital industri.
Pergeseran Basis Produksi Global Jadi Peluang bagi Indonesia
Di tengah tantangan transformasi digital, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat posisi sebagai basis manufaktur regional. Pergeseran pusat produksi global dari China ke sejumlah negara Asia Tenggara membuka peluang investasi baru bagi sektor industri nasional.
Menurut Vincent, Indonesia menjadi salah satu negara yang berpotensi mendapat manfaat dari relokasi industri global karena memiliki pasar besar dan kapasitas manufaktur yang terus berkembang.
Selain Indonesia, negara seperti Vietnam dan Thailand juga menjadi tujuan utama diversifikasi produksi perusahaan global. Persaingan antarnegara di kawasan membuat transformasi digital menjadi semakin penting untuk meningkatkan daya saing industri nasional.
Perusahaan yang mampu mengadopsi teknologi digital dengan cepat diperkirakan akan lebih siap menghadapi perubahan pasar global dan kebutuhan rantai pasok modern.
Cloud dan IoT Perkuat Integrasi Operasional Industri
Selain AI, penggunaan platform berbasis cloud juga semakin penting dalam mendukung transformasi industri manufaktur. Sistem cloud memungkinkan perusahaan mengakses data secara real-time dari berbagai lokasi operasional.
Teknologi ini dinilai membantu meningkatkan fleksibilitas bisnis sekaligus mempermudah integrasi antarunit perusahaan. Dengan cloud, perusahaan dapat mengelola data produksi, inventori, hingga distribusi secara lebih efisien.
Platform cloud juga mendukung implementasi internet of things atau IoT pada mesin produksi. Melalui IoT, perusahaan dapat memantau kondisi mesin secara langsung dan melakukan perawatan lebih cepat sebelum terjadi gangguan produksi.
Integrasi cloud, IoT, dan AI diperkirakan akan menjadi fondasi utama industri manufaktur modern dalam beberapa tahun ke depan.
Transformasi Digital Jadi Kunci Daya Saing Industri Nasional
Transformasi digital kini tidak lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan bagi industri manufaktur nasional. Perusahaan yang lambat beradaptasi berisiko tertinggal di tengah perubahan teknologi dan persaingan global yang semakin ketat.
Meski adopsi AI terus meningkat, para pelaku industri diingatkan untuk memperkuat fondasi operasional terlebih dahulu. Integrasi sistem, kesiapan data, dan pengembangan sumber daya manusia menjadi faktor penting agar transformasi digital dapat berjalan efektif.
Dengan dukungan infrastruktur teknologi yang lebih matang, industri manufaktur Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk meningkatkan efisiensi, menarik investasi, dan memperkuat posisi di rantai pasok global.
Baca Juga “Google Soroti 3 Hambatan Transisi Industri Hijau di Asia“