Manufaktur Lampaui Pertumbuhan Ekonomi, Menperin Nilai Industrialisasi Tepat
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menilai kinerja manufaktur pada triwulan II 2026 menunjukkan arah industrialisasi nasional berada di jalur yang tepat. Industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32 persen secara tahunan, sedikit lebih tinggi daripada ekonomi nasional yang tumbuh 5,29 persen.
Baca Juga “Toyota merambah bisnis manufaktur pesawat“
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara kuartalan, ekonomi juga tumbuh 3,73 persen dibandingkan triwulan I 2026.
Menurut Agus, capaian manufaktur mencerminkan dampak kebijakan pemerintah yang menempatkan industri sebagai salah satu fondasi pertumbuhan ekonomi. Pemerintah menjalankan strategi tersebut melalui penguatan struktur industri, hilirisasi, peningkatan nilai tambah, dan penciptaan lapangan kerja.
“Arahan Bapak Presiden Prabowo sangat jelas, yaitu menjadikan sektor industri sebagai tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Agus dalam keterangannya yang dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.
Ia mengatakan Kementerian Perindustrian menerjemahkan arahan tersebut melalui Strategi Besar Industrialisasi Nasional (SBIN). Strategi itu diarahkan untuk memperkuat kemampuan industri nasional sekaligus meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian.
Indikator Bisnis Manufaktur Masih Berada di Zona Ekspansi
Kinerja manufaktur tidak hanya terlihat dari pertumbuhan output. Kondisi dunia usaha juga menunjukkan aktivitas industri masih bergerak dalam fase ekspansi.
BPS mencatat Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Industri Manufaktur (IKBM) pada triwulan II 2026 berada di level 52,31. Angka tersebut masuk zona ekspansi dan menguat dibandingkan periode sebelumnya.
IKBM merupakan indikator awal yang digunakan untuk menggambarkan aktivitas produksi industri pengolahan. Indeks tersebut dapat menjadi salah satu acuan untuk membaca perubahan siklus bisnis sebelum tercermin sepenuhnya dalam indikator ekonomi makro.
Pada triwulan II 2026, komponen pesanan, produksi, dan stok dalam IKBM tercatat mengalami ekspansi. Sementara itu, komponen tenaga kerja dan waktu pengiriman masih berada dalam kondisi kontraksi.
Agus menilai konsistensi indikator tersebut menunjukkan pelaku industri masih memiliki optimisme terhadap prospek usaha. Aktivitas produksi, investasi, dan permintaan terhadap produk manufaktur dinilai tetap bergerak positif.
Sejumlah Subsektor Menjadi Penopang Pertumbuhan Manufaktur
Pertumbuhan industri pengolahan pada triwulan II 2026 ditopang sejumlah subsektor strategis. Industri makanan dan minuman menjadi salah satu sektor yang mencatat pertumbuhan tinggi dengan laju 6,51 persen.
Kinerja makanan dan minuman didukung permintaan dari pasar domestik dan ekspor. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya peran konsumsi sekaligus peluang pasar luar negeri terhadap produk manufaktur Indonesia.
Industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik, dan peralatan listrik mencatat pertumbuhan 8,04 persen. Subsektor tersebut menjadi salah satu yang tumbuh paling tinggi pada periode tersebut.
Permintaan global terhadap komponen elektronik, baterai, dan berbagai peralatan listrik turut menjadi faktor pendukung. Perkembangan ini juga memperlihatkan pentingnya penguatan industri berbasis teknologi dalam struktur manufaktur nasional.
Sementara itu, industri kimia, farmasi, dan obat tradisional tumbuh 4,99 persen. Pertumbuhan tersebut sejalan dengan peningkatan permintaan domestik terhadap bahan kimia dan berbagai produk turunannya.
Kenaikan Impor Barang Konsumsi Jadi Catatan Pemerintah
Di tengah pertumbuhan manufaktur, pemerintah juga mencermati perkembangan konsumsi masyarakat. Salah satu indikatornya terlihat dari nilai impor barang konsumsi yang meningkat 27,15 persen secara tahunan.
Menurut Agus, peningkatan impor barang konsumsi dapat menjadi indikasi bahwa daya beli dan konsumsi rumah tangga masih menunjukkan perkembangan positif. Permintaan domestik yang kuat memberikan peluang bagi industri untuk memperluas produksi.
Namun, kenaikan impor juga menunjukkan adanya kebutuhan pasar yang belum sepenuhnya dapat dipenuhi industri dalam negeri. Keterbatasan kapasitas bahan baku dan komponen tertentu membuat sebagian kebutuhan masih bergantung pada produk impor.
“Pertumbuhan konsumsi masyarakat merupakan sinyal positif bagi dunia industri karena menunjukkan permintaan domestik yang tetap kuat,” kata Agus.
Ia menilai kondisi tersebut perlu dimanfaatkan untuk memperkuat struktur industri nasional. Peningkatan kapasitas produksi dalam negeri diharapkan dapat membuat lebih banyak kebutuhan pasar domestik dipenuhi oleh produk dan bahan baku lokal.
Pemerintah Dorong Penguatan Industri Penyedia Bahan Baku
Agus mengatakan kenaikan impor barang konsumsi juga menjadi pengingat bagi pemerintah untuk memperkuat kebijakan yang mendukung industri domestik. Salah satu fokusnya adalah meningkatkan kapasitas industri penyedia bahan baku.
Penguatan sektor hulu diperlukan agar rantai pasok manufaktur nasional semakin terintegrasi. Kapasitas produksi yang lebih kuat dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap impor sekaligus meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.
Pemerintah juga perlu memastikan kebijakan industri mampu menciptakan iklim usaha yang mendukung peningkatan kapasitas. Hal tersebut mencakup produktivitas, teknologi, investasi, kualitas tenaga kerja, dan akses terhadap pasar.
Langkah tersebut menjadi semakin penting karena industri manufaktur berperan besar dalam struktur ekonomi Indonesia. Penguatan industri hulu dan hilir dapat meningkatkan kemampuan Indonesia memenuhi kebutuhan domestik sekaligus memperluas ekspor.
Net Ekspor Masih Menjadi Tantangan Pertumbuhan
Meski sejumlah indikator manufaktur menunjukkan kinerja positif, pemerintah masih menghadapi tantangan dari sisi perdagangan. Pada triwulan II 2026, komponen net ekspor memberikan andil negatif 0,78 persen terhadap pertumbuhan ekonomi.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah terus mendorong peningkatan daya saing industri. Agus menyebut peningkatan produktivitas dan hilirisasi sebagai bagian dari langkah untuk memperkuat kinerja perdagangan.
Diversifikasi produk bernilai tambah juga menjadi perhatian. Industri perlu meningkatkan kemampuan menghasilkan produk yang lebih kompleks sehingga tidak hanya mengandalkan komoditas atau produk dengan nilai tambah rendah.
Perluasan pasar ekspor menjadi strategi lain yang didorong pemerintah. Industri nasional perlu memperkuat kualitas dan efisiensi agar mampu mempertahankan daya saing di tengah persaingan pasar global.
Manufaktur Tetap Menjadi Penyerap Tenaga Kerja Besar
Selain memberikan kontribusi terhadap output ekonomi, industri manufaktur juga memiliki peran besar dalam penyerapan tenaga kerja. Data Mei 2026 menunjukkan industri pengolahan menyumbang 13,53 persen terhadap penyerapan tenaga kerja nasional.
Angka tersebut berasal dari total penduduk bekerja yang mencapai 148,19 juta orang. Data ini menunjukkan sektor industri tetap menjadi salah satu sumber lapangan kerja utama bagi masyarakat.
Agus menilai kondisi tersebut memperkuat alasan pemerintah mempertahankan manufaktur sebagai tulang punggung perekonomian. Pertumbuhan industri tidak hanya menghasilkan nilai tambah, tetapi juga membuka kesempatan kerja.
“Inilah yang menjadi alasan mengapa pemerintah terus menempatkan sektor industri manufaktur sebagai tulang punggung perekonomian,” tegas Agus.
Menurutnya, implementasi SBIN akan terus dipercepat agar industri nasional semakin kuat. Kebijakan tersebut diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus meningkatkan kemampuan ekspor.
Industri Pengolahan Dominasi Kontribusi terhadap PDB
Berdasarkan data BPS, industri pengolahan memberikan kontribusi 18,50 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Kontribusi tersebut menjadikan industri pengolahan sebagai salah satu lapangan usaha dengan peran terbesar dalam perekonomian nasional.
Pada triwulan II 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan. BPS juga mencatat bahwa kelompok provinsi di Pulau Jawa masih mendominasi struktur ekonomi nasional dengan kontribusi 56,47 persen.
Baca Juga “Tekanan biaya di tahun 2026: Bisnis manufaktur mencari solusi untuk meningkatkan efisiensi operasional.“