Limbah Pabrik Sawit Berpotensi Jadi Sumber Energi Rendah Karbon di Indonesia
Limbah cair dari ribuan pabrik kelapa sawit di Indonesia memiliki peluang besar untuk diubah menjadi sumber energi terbarukan. PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menilai pemanfaatan palm oil mill effluent (POME) menjadi compressed biomethane gas (CBG) dapat mendukung transisi energi sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.
Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, mengatakan Indonesia memiliki sumber daya yang besar untuk mengembangkan energi berbasis limbah sawit. Menurutnya, pemanfaatan POME tidak hanya menghasilkan energi rendah karbon, tetapi juga memberikan nilai tambah secara ekonomi.
“Indonesia memiliki potensi besar untuk mengubah limbah sawit menjadi sumber energi rendah karbon yang bernilai ekonomi,” ujar Hokkop pada Kamis (18/6/2026).
baca juga”Bahlil Ajukan Anggaran Rp815,5 M untuk Kompor Listrik“
Potensi Limbah dari 3.000 Pabrik Sawit Masih Belum Optimal
Indonesia saat ini memiliki sekitar 3.000 pabrik kelapa sawit yang menghasilkan limbah cair sekitar 130 juta meter kubik setiap tahun. Namun, sebagian besar potensi tersebut masih belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai sumber energi domestik.
Padahal, limbah POME merupakan salah satu penyumbang emisi gas metana yang cukup besar. PLN EPI memperkirakan emisi yang berasal dari limbah sawit dapat mencapai sekitar 20 juta ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e) per tahun.
Pemanfaatan limbah menjadi CBG dinilai mampu mengurangi emisi sekaligus mengubah persoalan lingkungan menjadi sumber energi yang lebih berkelanjutan.
Pengembangan CBG Dukung Target Energi Terbarukan dan NZE 2060
Pengembangan gas biometana dari limbah sawit menjadi bagian dari upaya mencapai target bauran energi baru dan terbarukan (EBT) nasional sebesar 44 hingga 48 persen pada 2030. Langkah ini juga mendukung target Indonesia mencapai net zero emissions (NZE) pada 2060.
Untuk mempercepat realisasi proyek tersebut, PLN EPI membangun ekosistem CBG terintegrasi. Skema tersebut mencakup penyediaan bahan baku, pembangunan fasilitas produksi, pendanaan, hingga penciptaan pasar untuk penggunaan energi biometana.
Dalam rantai bisnis ini, PLN EPI berperan sebagai agregator dan pembeli energi yang menghubungkan pabrik kelapa sawit dengan penyedia teknologi, lembaga pembiayaan, sektor industri, dan pembangkit listrik.
“Produksi saja CBG-nya, nanti kami beli dan kami distribusikan ke pembangkit. Kami siap menjadi agregator sehingga investasi di sektor ini bisa berjalan lebih cepat,” jelas Hokkop.
Proyek CBG PLTGU Belawan Jadi Langkah Awal Implementasi
Salah satu proyek yang tengah disiapkan adalah penggunaan CBG sebagai bahan bakar campuran atau cofiring di PLTGU Belawan, Medan, Sumatera Utara.
Untuk satu turbin gas berkapasitas 130 megawatt (MW) dengan tingkat cofiring 2,5 persen, dibutuhkan sekitar 450 MMBTUD bio-CBG. Kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dari sekitar 330.000 meter kubik POME per tahun atau setara dengan satu fasilitas produksi CBG.
Untuk memenuhi kebutuhan empat turbin di PLTGU Belawan, diperlukan empat fasilitas CBG dengan nilai investasi sekitar 20 juta dolar AS. Implementasi proyek ini diperkirakan mampu menekan emisi hingga sekitar 500 ribu ton CO2e.
CBG Berpotensi Hadirkan Manfaat Ekonomi dan Lingkungan
Selain membantu menurunkan emisi, pemanfaatan CBG memungkinkan penggunaan infrastruktur pembangkit gas yang sudah tersedia. Cara ini membuat peningkatan penggunaan energi terbarukan menjadi lebih efisien tanpa harus membangun pembangkit baru dalam jumlah besar.
PLN EPI memperkirakan satu proyek CBG mampu menghasilkan nilai ekonomi hingga Rp1,7 triliun serta mengurangi emisi sekitar 700 ribu ton CO2e.
Dalam roadmap perusahaan, kapasitas produksi CBG ditargetkan meningkat dari 1.000 MMBtu pada 2026 menjadi sekitar 2.957 BBTU pada 2030. Peningkatan kapasitas tersebut menunjukkan besarnya peluang pengembangan bioenergi dari sektor kelapa sawit.
Hokkop menegaskan bahwa bioenergi dapat menjadi penghubung antara transisi energi, ketahanan energi, dan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Dengan dukungan teknologi, investasi, serta model bisnis yang tepat, limbah sawit yang sebelumnya menjadi sumber emisi berpotensi menjadi energi bersih yang memperkuat ketahanan energi Indonesia di masa depan.
baca juga”Harga Minyak Kembali Turun, Krisis Pasokan Mereda“