Survei Bank Indonesia: Industri Manufaktur Tetap Ekspansi pada Triwulan II 2026
Kinerja sektor manufaktur Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan pada triwulan II 2026. Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia mencatat Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI) berada di level 51,43 persen, menandakan aktivitas industri pengolahan tetap berada pada zona ekspansi meski lajunya sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya.
Baca Juga “Survei BI: Kegiatan Dunia Usaha Meningkat, Kinerja Manufaktur Melambat Kuartal II/2026“
Pada triwulan I 2026, PMI-BI tercatat sebesar 52,03 persen. Penurunan tipis pada periode April–Juni menunjukkan laju pertumbuhan industri tidak secepat awal tahun, tetapi masih berada di atas ambang batas 50 persen yang menjadi indikator ekspansi.
Secara umum, hasil survei tersebut mengindikasikan bahwa aktivitas produksi nasional masih didukung oleh permintaan pasar yang terjaga. Stabilitas pasokan bahan baku serta peningkatan pesanan juga menjadi faktor yang menopang kinerja industri selama triwulan kedua.
Volume Produksi dan Pesanan Menjadi Penopang Utama Ekspansi
Bank Indonesia menjelaskan sebagian besar komponen pembentuk PMI-BI masih berada dalam fase ekspansi. Komponen tersebut meliputi volume produksi, volume persediaan barang jadi, dan volume total pesanan yang seluruhnya mencatatkan indeks di atas level 50 persen.
Volume produksi menjadi komponen dengan kinerja paling kuat pada triwulan II 2026. Indeksnya mencapai 53,81 persen, mencerminkan aktivitas produksi yang masih meningkat di tengah kondisi ekonomi domestik yang relatif stabil.
Sementara itu, volume persediaan barang jadi berada di angka 53 persen, sedangkan volume total pesanan mencapai 52,77 persen. Kedua indikator tersebut menunjukkan bahwa permintaan terhadap produk manufaktur masih terjaga sehingga mendorong perusahaan mempertahankan kapasitas produksinya.
Bank Indonesia menilai peningkatan produksi tidak hanya dipengaruhi oleh permintaan masyarakat, tetapi juga oleh tersedianya sarana produksi dan pasokan bahan baku yang memadai. Kondisi tersebut memungkinkan pelaku industri menjaga kelancaran proses produksi sepanjang triwulan kedua.
Penyerapan Tenaga Kerja Masih Mengalami Kontraksi
Di tengah pertumbuhan aktivitas produksi, komponen tenaga kerja masih menunjukkan kondisi yang berbeda. Indeks jumlah tenaga kerja tercatat sebesar 48,65 persen, sedikit lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang berada di level 48,76 persen.
Angka tersebut masih berada di bawah ambang batas ekspansi sehingga menunjukkan penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur belum sepenuhnya pulih. Meski demikian, Bank Indonesia memperkirakan kondisi tersebut akan membaik secara bertahap pada triwulan berikutnya.
Pada triwulan III 2026, indeks penggunaan tenaga kerja diproyeksikan meningkat menjadi 49,70 persen. Walaupun masih berada dalam zona kontraksi, kenaikan tersebut mengindikasikan adanya perbaikan dibandingkan periode sebelumnya.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa pelaku industri masih berhati-hati dalam menambah jumlah pekerja. Perusahaan cenderung mengoptimalkan kapasitas produksi yang ada sambil menyesuaikan dengan perkembangan permintaan pasar.
Industri Mesin dan Makanan Minuman Pimpin Pertumbuhan
Berdasarkan kelompok lapangan usaha, mayoritas subsektor manufaktur tetap mencatatkan kinerja positif sepanjang triwulan II 2026. Industri mesin dan perlengkapan menjadi sektor dengan indeks ekspansi tertinggi.
Di bawahnya terdapat industri makanan dan minuman yang masih menunjukkan pertumbuhan stabil. Subsektor ini terus menjadi salah satu penopang utama industri nasional karena didukung konsumsi rumah tangga yang relatif kuat.
Industri logam dasar juga mencatatkan ekspansi, diikuti industri barang galian bukan logam. Kinerja positif pada berbagai subsektor tersebut mencerminkan aktivitas manufaktur yang cukup merata di berbagai jenis industri.
Keberagaman sektor yang mengalami ekspansi menjadi sinyal bahwa pemulihan industri tidak hanya bergantung pada satu jenis usaha. Kondisi tersebut memberikan fondasi yang lebih kuat bagi pertumbuhan sektor manufaktur secara keseluruhan.
Bank Indonesia Proyeksikan Manufaktur Menguat pada Triwulan III
Bank Indonesia memperkirakan aktivitas industri pengolahan akan meningkat pada triwulan III 2026. PMI-BI diproyeksikan naik menjadi 52,32 persen, yang berarti sektor manufaktur diperkirakan tetap berada dalam fase ekspansi dengan laju pertumbuhan yang lebih baik.
Perbaikan tersebut diperkirakan didorong oleh peningkatan volume produksi yang diproyeksikan mencapai 54,33 persen. Selain itu, volume persediaan barang jadi diperkirakan berada di level 53,67 persen, sedangkan volume total pesanan diproyeksikan mencapai 53,66 persen.
Optimisme tersebut mencerminkan ekspektasi pelaku usaha terhadap permintaan yang masih positif pada paruh kedua tahun ini. Dengan meningkatnya pesanan, perusahaan diperkirakan akan mempertahankan bahkan meningkatkan kapasitas produksinya.
Dari sisi subsektor, industri mesin dan perlengkapan diproyeksikan tetap menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi. Selanjutnya disusul industri pengolahan tembakau, industri logam dasar, serta industri alat angkutan yang diperkirakan sama-sama berada dalam zona ekspansi.
Prospek Manufaktur Dinilai Tetap Positif Meski Tantangan Berlanjut
Hasil survei Bank Indonesia menunjukkan sektor manufaktur Indonesia masih memiliki daya tahan di tengah berbagai tantangan ekonomi global. Walaupun laju ekspansi sedikit melambat dibandingkan awal tahun, indikator utama seperti produksi, persediaan, dan pesanan tetap mencerminkan aktivitas industri yang sehat.
Di sisi lain, penyerapan tenaga kerja masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian. Peningkatan produksi diharapkan dapat diikuti oleh bertambahnya kebutuhan tenaga kerja apabila permintaan terus menguat pada triwulan-triwulan berikutnya.
Dengan proyeksi PMI-BI yang kembali meningkat pada triwulan III 2026, prospek industri pengolahan dinilai tetap positif. Stabilitas permintaan domestik, kelancaran rantai pasok, serta iklim usaha yang kondusif akan menjadi faktor penting dalam menjaga momentum pertumbuhan sektor manufaktur sebagai salah satu penopang utama perekonomian nasional.
Baca Juga “Mengapa Industri Manufaktur AS Masih Bertahan?“